caleg

Saya sama sekali tidak punya saran bagaimana memilih “caleg yang baik” – meski saya juga tak yakin apakah ada cara itu. Lagi pula, bila ada keluarga Anda yang menjadi caleg, maka saya yakin Anda pasti memilihnya.

 

Setiap hari melihat gambar-gambar caleg bertebaran di mana-mana, mau tidak mau saya pun mulai berpikir. Dari pikiran yang wajar, rasional, hingga yang nakal. Baiklah, saya akan sedikit membocorkan pikiran apa saja itu (yang barangkali juga sebenarnya pernah atau bahkan selalu melintas di benak Anda). Apakah penting atau tidak penting pikiran ini disampaikan, anggap saja ini adalah bagian dari feedback (tanggapan balik) yang secara langsung diperoleh masyarakat dari penampangan (bukan penampakan) gambar-gambar caleg itu sendiri yang seperti memaksa menyerobot pandangan kita. Oke, biar gampang, saya catatkan beberapa pikiran itu:

 

  1. Memberikan kesadaran pada diri saya, betapa besarnya minat orang-orang yang ingin menjadi caleg.
  2. (Saya masih ragu, dan terus berpikir) apakah jalanan terasa lebih indah dengan gambar-gambar caleg itu, atau malah menambah kumuh.
  3. Setidaknya saya menjadi kenal (meski sebatas gambar wajahnya saja) siapa saja yang akan mewakili masyarakat di lembaga legislatif.
  4. Saya kadang berpikir, mampukah mereka mewakili masyarakat?
  5. Aneh, saya merasa tidak enak melihat mata-mata mereka yang sepertinya selalu menguntit kemana pun saya (atau kita?) berjalan. Mungkin saya berlebihan, tapi setidaknya saya berusaha jujur.

 

Dari sekian pikiran itu, pikiran yang manakah paling dominan, saya tidak bisa mengukurnya. Barangkali Anda, selain pikiran seperti saya di atas, juga memiliki pikiran yang lain, bahkan bisa saja lebih nakal seperti halnya pikiran-pikiran mereka yang merusak gambar-gambar para caleg yang sering kita temui di jalanan. Misalnya, ada gambar caleg yang tersenyum, lantas salah satu giginya dihitamkan sehingga terkesan ompong. Ada gambar caleg perempuan, eh malah dikasih kumis (kalau caleg pria tak berkumis dikasih kumis, ya tetap saja masalah juga). Ada lagi gambar caleg yang di antara bibirnya dikasih puntung rokok, sehingga kesannya caleg itu merokok. Ada pula gambar caleg perempuan dikasih titik hitam di pipinya, seolah-olah punya tahilalat seperti Elvi Sukaisih. Dan tak terhitung baliho caleg yang rusak parah, entah karena disengaja dilakukan tangan manusia, atau karena faktor alam, angin kencang atau hujan.

 

Terlepas dari itu, ternyata saya masih diganggu pikiran-pikiran lain. Kali ini saya mencoba bertanya, apa kiranya yang menjadi motivasi mereka (para caleg) itu sehingga “berani” mencalonkan diri – yang padahal ongkos politik untuk itu tidaklah sedikit. Apakah rata-rata mereka kaya? Saya yakin tidak juga. Jadi, pastilah ada beragam motivasi yang melatarbelakangi mengapa mereka (para caleg) itu sehingga merasa yakin terpilih dan pantas untuk kita pilih. Lagi-lagi, saya mencoba membuat urut-urutan pikiran saya tentang kemungkinan motivasi dan harapan mereka yang menjadi caleg.

 

  1. Mereka (para caleg) itu merasa kredibel, sehingga pantas mewakili dan memperjuangkan aspirasi masyarakat.
  2. Merasa punya ikatan emosional dan kultural dengan masyarakat pemilihnya.
  3. Merasa dapat diterima masyarakat.
  4. Merasa bahwa jika terpilih jadi anggota legislatif, maka status sosialnya akan berubah drastis, merasa lebih terhormat.
  5. Anggota legislatif gaji dan tunjangannya gede.
  6. Daripada nganggur, sementara proses jadi caleg tak susah.
  7. Walau merasa tak kredibel, jika terpilih akan menjadi anggota legislatif yang “baik”; datang, duduk, diam, duit.
  8. Untung-untungan.

 

Yang kadang membuat saya berpikir juga (sepertinya saya memang terlalu banyak memikirkan mereka), wajah-wajah para caleg itu sebagian besar asing bagi kita. Mereka seakan-akan begitu saja muncul, padahal kita tak pernah tahu pasti siapa mereka sebenarnya. Dan hampir di setiap perempatan lampu merah, wajah mereka seperti saling berebut untuk menarik perhatian kita.

 

Seorang caleg pernah berkata kepada saya, bahwa sebenarnya ia menyadari sebagian besar masyarakat tidak mengenal dirinya — begitu juga dengan caleg lainnya. Sebab itulah, pemilih yang diharapkan pasti memilihnya hanyalah kalangan keluarga, kawan, dan orang yang kebetulan mengenalnya. Selebihnya, entahlah.

 

Saya sama sekali tidak punya saran bagaimana memilih “caleg yang baik” – meski saya juga tak yakin apakah ada cara itu. Lagi pula, bila ada keluarga Anda yang menjadi caleg, maka saya yakin Anda pasti memilihnya. Bagaimana bila tak ada anggota keluarga menjadi caleg, sementara tak ada caleg yang benar-benar dikenal? Hhmmm… saya berpikir, pasti pilihannya jatuh kepada caleg yang cantik atau ganteng. Ya, setidaknya pemilih itu merasa “seleranya” tidaklah jelek.[]

 

 

 

 

Iklan

15 pemikiran pada “caleg

  1. saya bingung mau komentar apa. Bingung juga mau contreng jidat siapa. Terlalu banyak pilihannya. Si Ganteng apa si Cantik ya? Andai bisa, contreng semua saja.

  2. Disamping kita bingung bagaimana cara memilih caleg yang baik, para caleg itu sendiri juga tidak bisa mensosialisasikan dirinya sendiri, cuma gambar bertuliskan ” contreng ulun ” tanpa bisa dan berani memberikan janji walaupun itu cuma janji semu, cuma bisa menunjukan wajah yg super PD, atau wajah memelas minta di conterng..he..he..

  3. ente jadi banyak memikirkan caleg tu, karena ana pang jadi caleg jua. handak mencontreng gambarku, ketiya lain dapilnya. ya, kalo?
    hehehe (duh, kasihannya caleg yg satu ni…)

  4. Temen2 saya bnyk yg jd caleg.
    Kaget jg sih soale setau saya kapasitas mereka sebagai calon “wakil rakyat” dibawah standar.

    Tapi kata agama saya Wallohualam.

    Untuk itulah saya golput. Kata orang2 golput itu ga bertanggung jawab, tapi sesungguhnya, golput merupakan pilihan yang amat sangat berat.

    Salam dan met kenal ya!

  5. Seorang yang dia sudah berani mencalonkan diri sebagai CALEG sebenarnya sudah harus mempunyai jiwa pengorbanan yang besar bagi masyarakat, bukan sebaliknya jiwa mengorbankan masyarakat yang besar bagi dirinya, karena yang jelas CALEG jika benar menjadi anggota dewan punya amanat besar jadi jalan mensejahterakan masyarakat, bukan sebaliknya mensejahterakan dirinya

  6. Kebanyakan Partai & banyaknya gambar caleg dijalan bikin sy pusing & bingung(enek liatnya apalagi gbrnya gede2,kesannya nafsu bnr mau jd caleg n keliatan bnr mentingin dirinya sndiri) jg bikin kota semraut…gambar2 mereka seperti selebritis dadakan…

  7. moga”tuch caleg bisa ngebuktiin “janji”nye,,
    g’cuma “NATO”(No Action Talk Only)
    Amien…..

  8. Kok calegnya malah lebih suka majang foto mereka di pinggir jalan, ya..??? Apa gak takut kepanasan? Mending buktiin dulu kualitas diri, sebelum berani jadi caleg, ntar malah cuap-cuap gak jelas…. Janji inilah, itulah…gak ada yang terbukti….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s