Mengapa Puisi?

Dan kita juga dapat memahami, mengapa banyak penyair tua (saya tak menyebutnya: muka lama) yang lebih banyak menulis puisi-puisi “ilahiah”.

Mengapa kita membaca (atau menulis) puisi? Mengapa kita mesti berpayah-payah memahami kata-kata atau tanda-tanda (kode) di dalam puisi? Atau, mengapa pula kita harus “berdarah-darah” untuk mengungkapkan sesuatu dengan kata atau kalimat yang tidak langsung menjelaskan apa yang hendak kita sampaikan, yang lalu itu kita sebut sebagai puisi? Saking rumitnya puisi, kadang kita tak tahu apa yang hendak disampaikan oleh seorang penyair (penulis puisi) – nah, bukankah bila begitu maka puisi itu menjadi gelap (puisi gelap) sulit dimaknai? Dan orang awam yang ingin memahami puisi itu terlebih dulu harus mempelajari semantik.

Saya menuliskan esai pendek ini bukan sebagai seorang yang tahu tentang puisi. Tapi juga berusaha ingin memahami puisi. Atau, cukupkah kita terima saja bahwa puisi ditulis dan dibaca, itu karena manusia memang memerlukannya?

Barangkali kita sepakat, bahwa puisi adalah sekumpulan kata pilihan yang dirangkai dengan mempertimbangkan keindahan larik (rima), majas (metafora), makna dan irama (bunyi). Kuncinya adalah “kata pilihan”, yang itu dihasilkan dari proses permenungan, kontemplasi, atau mungkin bisa saja diperoleh tiba-tiba seperti kejatuhan ilham dari langit. Setiap kata yang didedahkan ke dalam puisi, kita yakini adalah hasil perasan tidak saja seluruh perbendaharaan kata yang kita miliki, tapi juga seluruh intisari dari makna-makna kehidupan yang hendak disampaikan.

Jadi, seperti pernyataan sastrawan Rusia Leo Tolstoy, bahwa ia lebih memilih menulis puisi ketimbang prosa bila hendak mengungkapkan pikiran secara sangat padat dan dengan kekuatan maksimal.

LouAnne Johnson (Michelle Pfeiffer) dalam film Dangerous Minds (1999), setidaknya juga memberikan sedikit jawaban tentang puisi –meski kita juga bisa mencari jawaban lainnya dari tokoh-tokoh penyair dan atau bahkan filsafat. Ketika LouAnne mengajarkan puisi di kelas, ia ditanya oleh murid-muridnya yang bengal; “Puisi lagi. Apa hubungannya dengan semua ini?”

“Puisi? Karena jika kalian bisa membaca puisi, kalian bisa baca apa saja,” jawab LouAnne.

Barangkali LouAnne benar, bahwa bila kita bisa memahami puisi, maka kita akan bisa membaca apa saja (baca: kehidupan). Sebab puisi tak saja terdiri dari sekumpulan kata yang mempertimbangkan keindahan bunyi dan kiasan, tapi juga menyimpan tanda-tanda yang tidak secara langsung bisa ditangkap dan dicerna pembacanya. Maka, apabila kita terlatih membaca tanda atau kode di dalam puisi, kita pun bisa membaca setiap tanda yang kita jumpai.

Hey! Mr. Tambourine Man, play a song for me,
I’m not sleepy and there is no place I’m going to.
Hey! Mr. Tambourine Man, play a song for me,
In the jingle jangle morning I’ll come followin’ you.

Kata “tambourine” di dalam lirik lagu Bob Dylan di atas, menurut LouAnne bisa saja adalah sebuah tanda. “Sebab, tahun 60-an menyanyikan tentang narkotika itu dilarang. Jadi, mereka membuat kode.”

Makna sebuah puisi memang sangat tergantung kapan puisi itu ditulis. Tidak saja kondisi sang penyairnya, tapi juga zamannya. Setiap membaca puisi-puisi Chairil Anwar, saya selalu menemukan  kemuraman (sekalipun di dalam puisi “Aku” yang seringkali dibacakan dengan garang) – mungkinkah  karena kehidupannya yang bohemian? Atau sajak-sajak Rendra yang menyuarakan kebebasan suara hati karena pembungkaman oleh pemerintahan orde baru yang represif, atau juga penyair Ka dalam novel Snow (Orhan Pamuk) yang puisi-puisinya selalu dipengaruhi suasana kota Kars di Istanbul yang bersalju. Dan kita pun dapat memahami, mengapa banyak penyair tua (saya tak menyebutnya: muka lama) yang lebih banyak menulis puisi-puisi “ilahiah” – yang itu memberikan petunjuk tentang suasana psikologis dan kesadaran diri sang penyairnya. Sebagaimana halnya anak muda yang lebih suka menulis puisi cinta – yang kadang justru karena cintalah mereka mendadak menjadi seorang penyair yang romantis sekaligus gombal.

Lalu, mengapa puisi? Dan mengapa hingga sekarang orang masih menulis dan membaca puisi? Jawabnya, kali ini saya lebih percaya ini; mungkin karena kita memang tidak pernah tahu, dan terus mencari dengan menulis dan membaca puisi itu sendiri.[]

Iklan

22 pemikiran pada “Mengapa Puisi?

  1. Saya tidak mengerti puisi, apapun itu. Gelap, terang ataupun remang-remang. Tapi jujur saya suka puisi (sebagai penikmat)kadang-kadang sesekali membuat, walau tak tahu pasti apakah itu yang disebut puisi? Aneh ya!!

    * Ayoo, siapa yang berminat mengajari saya….

  2. Mungkin karena kita lebih dekat dengan makna kata dibandingkan dengan makna kalimat, yang terkadang suatu kata tidak bergantung pada sebuah kalimat. Hanya kata yang dapat mewakili rasa, yang terkadang memang tidak perlu dibaca.

  3. ternyata masih ada juga yang menanyakan hal ini (puisi) dan masih ada juga yang mau membaca tulisan-tulisan tentang puisi, dan; satu kata; permisi! Datang sebentar, pergi lagi.Blog walking…:)

  4. Puisi bagi saya seperti media untuk berekspresi, ditengah keterbatasan akal dan ilmu saya, saya bisa merasa bebas setelah menuangkannya dalam kata-kata, saya mencintai puisi seperti halnya anak tunggal, dan saya tahu puisi membantu saya dalam segala hal, dan terkadang “saya ingin bersembunyi”

  5. Salam. Saya ternyata sangat senang membaca artikel ini. Di dalamnya penuh dengan tanda tanya dan persoalan yang harus dirongkai oleh pemikiran. mengapa? kenapa ? bagaimana dan seumpamanya menjadikan kita menggunakan akal fikir sebagai upaya mengetahui keupayaan kita menanggapi sesuatu hal.

    Saya suka kepada puisi. tetapi kurang berbakat mencipta bait-bait indah untuk dirongkaikan. Sering kali puisi saya kurang menjadi. Mungkin kerana terlalu memikirkan bahasa yang paling mudah, padat dan betul-betul menceritakan luahan hati, namun jarang sekali sampai ke detinasinya. Nampak rumit juga bagi saya, namun tidak bagi orang lain.

    Saya senang sekali dengan cara saudara memperkenalkan diri dalam ruangan PADA MULANYA KATA…. sungguh memberi makna dalam bentuk persoalan yang tentu sekali disusuli jawaban yang membuat saya tersenyum dan kagum dengan kreativiti yang disampaikan. SYABAS. Gembira dapat berkenalan dan menyebar ilmu di ruang bermanfaat ini. Salam dari Malaysia.

  6. Wah,lawas nah aku kada mailangi Sandi.Puisi ? Puisi itu adalah alam sekitar, alam kehidupan, alam mimpi, kata adalah sarana untuk melahirkannya kembali.Kita tulis puisi karena ia ada.

  7. Puisi itu walaupun kata-katanya rumit untuk dimengerti,,namun terdapat ke indahan didalmnya..

    ka Sandy,,masih ingat ga sama saya.
    saya mantan anak magang di Radar Banjar.

    salam buat kaka-kaka yang laen.

  8. Puisi itu sebenarnya cuma kata, wal. tapi karena jiwa kita ini haus, maka ia mencoba mencati-cari kehangatan di kata-kata. Ente tau kalo, bila membaca puisi ada nang trance kayak kawan kita si Hajri. Itu berarti kawan kita tuh haus banar kira-kira…
    lawan jua puisi tulah, kaya lagu jua, ada nada. ramuan nada tu ente perhatikan kaya ente metik gitar, ada A B C D E F. Setiap senar tu kada musti sama, tapi justru disitulah harmoninya, wal. Kada mesti harus Aaaaaa, Bbbbb, Cccc.
    Tapi Amun puisi ente nang kita bertumbangan tu memang dahsyat. Kenapa ente kada umpatkan haja di festifal puisi internasional Prancis yang tanggal dan tahunnya ane lupa ? Pasti kawalah masuk nominasi.

    Dan, wal…Perhatikan baik-baik. Tulisan ini pun sebuah puisi bagi yang haus.
    Iya kalo ?

  9. hmmm…..puisi…memang puisi itu bisa mencerahkan pikiran dikala gundah, dan bisa dibawai urang tulakan ke negeri tetangga, hiihihi….kaya pa arsyad…

  10. Silakan kunjungi jurnaltoddoppuli.wordpress.com.Siapa tau memberi banyak inspirasi…SAlam,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s