Cermin #5

Nenek dan Daun Gugur

… Sahibul hikayat, ada seorang nenek yang kerjanya setiap menjelang magrib memunguti daun-daun sawo yang gugur di halaman musala dekat rumahnya. Bertahun-tahun sudah ia melakukannya. Sampai kemudian, seorang pemuda alim menjadi tetangganya. Demi melihat seorang nenek memungut daun-daun menjelang magrib, pemuda alim merasa tak tega dan membersihkan daun-daun itu sebelum sang nenek tiba. Namun alangkah sedihnya sang nenek ketika mendapati halaman musala telah bersih. Ia pun bertanya kepada jamaah musala, “Siapa yang membersihkan daun-daun ini? Tidak tahukah kalian, bahwa setiap helai daun yang saya pungut adalah amal pahala untuk bekal saya kelak? Biarkanlah, biarkanlah saya mendapatkan pahala dari daun gugur itu di ujung usia ini…” Air matanya pun melincir sehening senja menjelang magrib itu.[]

Segelas Air Putih

Aku tertegun menatap ujung jalan depan rumah, berharap melihat punggung sang musafir.

Enam menit sebelumnya.
“Berilah saya segelas air putih,” pintanya.
Saya tertegun di depan pintu. Pastilah dia seorang musafir, bila bukan malaikat yang menyamar menjadi manusia seperti prasangka saya kepada setiap peminta yang datang. Tapi lelaki setengah baya berpakaian kumal ini berbeda, ia hanya meminta segelas air putih.
“Tunggu sebentar,” saya bergegas ke dalam mengambil air. Istri saya dan si kecil kebetulan tak ada di rumah, sejak kemarin mereka menginap di tempat nenek si kecil, dan hari ini rencananya pulang.
Setelah meminum habis segelas besar air putih, musafir itu berucap, “Terima kasih. Bila setiap sedekah yang diberikan tanpa membicarakannya kepada orang lain dan membangga-banggakannya, ia akan dijauhkan dari kesedihan.”
Tit… tit…, bunyi SMS di sakuku mengagetkan. Entah bagaimana, tiba-tiba sang musafir pun menghilang dari hadapan. Tak sempat memikirkan bagaimana ia bisa lesap begitu cepat, aku membuka SMS yang ternyata dari istriku: Bang, tadi nyaris saja angkot kami tabrakan. Alhamdulillah, tak apa-apa. Sebentar lagi kami sampai. Love u.[]

Hujan dan Kodok

Suatu malam, hujan bertanya kepada kodok, “Mengapa kau selalu memanggilku dengan suaramu yang jelek itu?”
“Tidak tahukah kau bila suaraku adalah tasbih? Seperti halnya juga kamu hujan, yang kadang dibenci, padahal adalah rahmat?”
“Lantas, siapakah sebenarnya yang tidak pernah mengerti?”
Hujan dan kodok tertawa.
Sepanjang malam mereka berdialog, begitu akrab, begitu kerap, hingga menjelang subuh.[]

Iklan

22 pemikiran pada “Cermin #5

  1. salah kah si pemuda yang mengambil pahala yg seharusnya di peroleh si nenek.sedekah bisa menghindarkan dari musibah.manusia kadang tidak mengerti bahwa setiap yg tercipta di dunia ini memiliki manfaat

  2. …lalu nenek itu pun meninggal.

    …o, jadi pengemis tu malaikat, lah.

    …pantas ai subuh semalam tu pina ribut banar (waktu hari hujan).

    …hehe

  3. #hersan:
    tak salah pemuda mengambil pahala si nenek, hanya saja si nenek merasa jatah pahalanya diserobot si pemuda.

    #syafwan:
    hujan memang bikin tidur nyeyak, atau kalau memang pas di rumah. kalau di jalan? 🙂

    #manusiasuper:
    terima kasih, mansup. lagi menunggu ada yang mau nerbitin, hehee..

    #randu:
    memangnya selama ini ane nulis tidak esensi?

    #hajri:
    lalu nenek meninggal, dan masuk surga (kok tau nenek masuk surga? 🙂 )
    apakah musafir itu malaikat, wallahu’alam
    kalau di rumah ente, ributnya karena hujan atau apa wal? hehee…

  4. Ha ha ha ha…. Bagus sekali ceritanya….

    Tapi awak tak paham dengan pahala. Awak bertanya, “Apa pahala itu?”

    Akankah kita beribadah untuk mendapatkan pahala? Ah, sekali lagi ah….

    Tul! Tak pantaslah kita membicarakan amal kita, apalagi membanggakannya.

    Tak ada ciptaan-Nya yang tak berguna. Setuju?

    Silakan berkomentar balik di laman saya….

  5. Hasil tangkapan saya di sungai ilmu bang Sandy Firly ini :
    A.Berbuat amal ibadah tak terkendala oleh usia, pemuda yang beriman adalah yang bisa menghormati dan menghargai para orang tua.

    B.Sesungguhnya sedekah adalah amal yang bisa mendatangkan rejeki sekaligus menjauhkan kita dari bala bencana.

    C.Belajar dari hewan yang tak hentinya mengingat Sang Pencipta, serta mensyukuri segala yang diberikan dengan memandang dari kacamata iman

    TOLONG TAMBAHANNYA BANG ..

  6. Ass.

    Nenek tertegun dengan air mata menetesi daun yang baru jatuh dekat kakinya, “Selalu ada daun kering yang jatuh!”, hiburnya pada diri seraya matanya tertuju pada seorang musafir yang berlalu dengan wajah berseri seakan terbebas dari rasa dahaga dan sedang bergumam, “Lantas, siapakah sebenarnya yang tidak pernah mengerti?”.

    Nenek lelap tertidur setelah pulang dari musala sehabis sholat Isya, dan terbangun di penghujung malam dalam hujan dengan diiringi nyanyian gembira kodok-kodok di rawa dekat rumah. Air matanya kembali menetes karena berhak atas suatu pahala, “Biarlah orang lain mendapatkan pahala dari apa yang dapat dilakukannya, meskipun itu tidak menyisakan yang juga dapat aku lakukan”.

  7. Ass.

    Lincir … melincir; pilihan kata yang membuka imajinasi baru tentang air mata yang menetes di pipi yang berminyak?

    Lesap … (begitu cepat); pilihan kata untuk kekagetan tanpa kepeduliaan?

    Kerap … (begitu); pilihan kata yang membatasi isi dialog yang begitu akrab?

  8. Assalamualaikum..
    hemmm..
    Ada apa dengan Kak Sandi?
    Nuansa cermin5 ini sangat berbeda dengan yang sebelumnya.
    Dapat pencerahan kah? 😀

  9. #wawan:
    trimakasih. semoga pesannya bermanfaat.

    #reallylife:
    kita memang perlu tuk selalu merenung…

    #batanggaring:
    pahala (juga surga), bukankah itu yang dijanjikan-Nya?

    #pengangguran menulis mimpi:
    ..sudah cukup, tak perlu ditambah lagi 🙂

    #he benyamine:
    … pilihan kata, seperti rasa mint di dalam coklat (layaknya coklat randu yang dikasih dari malaysia, hehee..)

    #rismiyana:
    wa’alakumsalam.
    hmm…, ya supaya ada nuansa baru saja.
    tak ada apa-apa dengan diriku.
    semoga kita selalu mendapatkan pencerahan, dari hal-hal kecil sekalipun.

  10. Jika pahala itu adalah apa yang engkau katakan, maka ikhlaslah dalam setiap ibadah yang kita lakukan…. janganlah kita niatkan untuk mencari pahala. Karena janji-Nya tak perlu kita kejar. Mengapa? Karena janji-Nya berbeda dengan janji manusia yang kadang harus kita kejar hingga mereka menepatinya.

  11. Dialog-dialog penceritaan yang menusuk hati dan mengesankan. Menjadikan kita pemikir yang segar dan sarat dengan teladan, jika kita tahu memahami setiap hikmah yang tersirat dan tersurat. Saya amat terkesan dengan kisah 2. Ia mengajar kita erti kasih sayang dan belas ihsan tanpa mengira siapa, bangsa, agama dan kedudukan manusia itu. Bantu membantu golongan yang kurang mampu dan tiada upaya harus dan mesti menjadi amalan setiap insan yang diberikan kurnia lebih dari Allah swt, walau hanya segelas air. Hal ini mengingatkan saya tentang kisah Nabi Khidir a.s. Salam hormat.

  12. #siti fatimah: cerita-cerita itu menjadi pengingat saya sendiri. agar selalu sedar.

    #randu: masa nabi khidir tinggal di banjarbaru? heheee

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s