Surat dari Cakrawala

Salam sastra,

Kiranya memang inilah saatnya. Saya telah sampai pada jalan yang tidak lagi hanya lurus ke depan, tapi ada sebuah belokan yang begitu menggoda saya. Dan saya memilihnya.

Saya pun tiba-tiba seperti terjaga, bahwa jalan lurus selama ini terasa kian melenakan, sehingga melemahkan daya hidup saya. Sedangkan pada jalan berbelok itu, masih misteri, menjanjikan warna-warna baru dan menggelorakan tantangan.

Memang, bukan hal mudah untuk akhirnya saya memilih jalan berbelok itu. Di jalan sekarang ini, di Banjarbaru ini, di tempat kerja saya Radar Banjarmasin ini, semuanya tidaklah terbangun begitu saja. Dan betapa juga begitu banyak hal yang mewarnai perjalanan hidup saya selama ini, selama sembilan tahun lebih sejak Radar Banjarmasin berdiri pada 25 Januari tahun 2000 lalu. Terlebih, saya termasuk orang pertama di koran ini.

Sejak awal pula, saya berupaya menghadirkan halaman Cakrawala (Sastra dan Budaya) di Radar Banjarmasin. Alhamdulillah, kehadirannya mendapat sambutan yang sangat baik dari kawan-kawan sastrawan di Kalimantan Selatan. Begitu pula sastrawan dari luar tanah Banjar, semisal Raudal Tanjung Banua (Jogjakarta), Sunlie Thomas Alexander (Bangka Belitung), Isbedy Setiawan (Lampung), pun menaruh apresiasi yang tinggi dengan mengirimkan karyanya ke Cakrawala.

Tak sedikit, berawal dari Cakrawala ini pula, banyak sastrawan yang akhirnya membukukan karya-karya (cerpen, puisi, esai atau kritik sastra) mereka. Pun, tunas-tunas baru bersemaian dari Cakrawala ini, dan bahkan ada pula yang telah “mengabadikan” karyanya ke dalam bentuk buku.

Begitu antusias dan bergairahnya kegiatan bersastra di Kalsel, dari semula hanya satu halaman, tak sampai dua tahun halaman Cakrawala ditambah menjadi dua halaman. Ini dimaksudkan untuk bisa menampung karya-karya penulis (termasuk pemula) yang cukup banyak masuk ke meja kerja saya. Meski kemudian, berdasarkan pertimbangan manajemen, sejak 10 Mei 2009, halaman Cakrawala dikembalikan menjadi hanya satu halaman lagi.

Dalam perjalanannya, Cakrawala juga pernah memberi ruang bagi Puisi-Puisi Siswa dan sempat dilengkapi dengan ulasan dari penyair. Termasuk bekerja sama (Unlam, pemerintah daerah, dll) dalam menggelar lomba penulisan, baik cerpen, puisi, ataupun esai tentang sastra (dan selanjutnya karya pemenang diterbitkan di Cakrawala, lantas dibukukan).

Dalam kegiatan rutin Aruh Sastra, halaman Cakrawala juga menjadi mitra kerja untuk setiap informasi kegiatan termasuk publikasi naskah-naskah yang selalu ditunggu para pecinta sastra – semoga Aruh Sastra di Batola yang sedianya akan dihelat pada Desember 2009 nanti masih bisa bekerja sama dengan Cakrawala, meskipun saya sudah tidak lagi mengasuh halaman ini.

Ya, mulai awal Agustus 2009 nanti, saya tidak lagi menjadi pengasuh halaman Cakrawala karena saya sudah tidak di Radar Banjarmasin lagi. Saya hijrah ke Bandung, berkerja di Radar Bandung— masih satu grup dengan Jawa Pos.

Lantas, siapakah pengasuh halaman Cakrawala? – begitulah pertanyaan sebagian kawan sastrawan yang disampaikan dengan nada cemas.

Beruntunglah, sekitar lima bulan lalu saya bertemu dengan Randu Alamsyah (penulis novel Jazirah Cinta, yang kini menjadi wartawan Radar Banjarmasin). Kepadanyalah halaman Cakrawala saya percayakan. Dan saya yakin, di tangan Randu, halaman Cakrawala nantinya akan tetap menjadi barometer bagi perkembangan sastra di Kalimantan Selatan.

Demikian, jalan berbelok itu sudah begitu dekat. Dan saya telah bersiap menjalaninya. Bila angin tak berubah, maka saya akan meninggalkan tanah Banjar ini tanggal 3 Agustus 2009 nanti menuju Bandung. Meski, saya juga berencana untuk bisa berangkat terlebih dulu ke Bangka Belitung (Babel) untuk mengikuti acara Temu Sastrawan Indonesia (TSI) II yang berlangsung 30 Juli – 2 Agustus 2009 – dan itu artinya keberangkatan saya bisa lebih cepat, yakni tanggal 29 Juli.

Selayaknya sebuah perpisahan, maka izinkahlah saya meminta doa restu dan ampun maaf atas khilaf dan kesalahan yang mungkin pernah saya perbuat, baik sengaja atau tak disengaja. Bukankah manusia tempatnya salah dan lupa?

(Akhirnya, tak ada puisi yang dapat saya kutip untuk menutup surat ini – sebab buku-buku sudah terlanjur saya kardusin semua).

Salam sastra,

wassalam

: catatan ini diterbitkan di Cakrawala Radar Banjarmasin, Minggu 26 Juli 2009

Iklan

23 pemikiran pada “Surat dari Cakrawala

  1. Satu lagi teman yang meninggalkan Kalsel.
    Saya hanya bisa turut mendoakan, agar selalu mendapatkan yang terbaik. Dan nampaknya saya akan mendapatkan lagi satu tempat tujuan kalau jalan ke Bandung.

    Saya bukanlah pegiat sastra, namun yg pasti, pada sisi lain rekan Sandi juga memiliki andil besar dalam kelahiran dan perkembangan dunia blogging di Kalsel, khususnya Komunitas Kayuh Baimbai. Untuk itulah, saya secara pribadi menyampaikan rasa terima kasih dan penghargaan.

    makasih banyak bos …

  2. selamat jalan, selamat bertugas di tempat yang baru dan yang penting trus bergiat di dunia kata, iya klo bos

  3. met jalan kawan, semoga sukses di tempat yang baru, saya harap tali silaturahmi ini akan tetap terjalin…dan tidak akan melupakan kita2 di sini…

  4. Selamat jalan Bung Sandi. Semoga semangat anda utk memajukan sastra Kalsel tak kan hilang walau di tempat baru. Dan selamat datang Randu Alamsyah, harapan para sastrawan Kalsel (termasuk pemula) sekarang akan tersandang di pundakmu. Jangan kecewakan mereka!

  5. # untuk semua:

    terima kasih.. terima kasih.. terima kasih…
    di bumi Allah ini, di mana pun, insya Allah kita akan bertemu lagi.

    wassalam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s