homesick

..aku masih mengingat kampung kecil itu; angin yang datang dari tepi laut, musala dengan pohon sawo berdaun lebat – tempat waktu kecil menunggu bedug berbuka dan salat tarawih, pelita di depan rumah, dan tegur sapa ramah kerabat tetangga. Akhirnya, selalu, semuanya bermuara pada dua pasang batu kembar di tanah lapang….[]

Iklan

13 pemikiran pada “homesick

  1. @yulian: kenangan itu bukannya mengabur, tapi terus menebal. meski, kita juga telah meninggalkan jejak dan kenangan pada tanah yang lain.

    @rizal:kukira, kenangan ramadan pada masa kecil adalah kegembiraan yg sangat alami.

    @hajri: ya, ramadan seperti hujan sepanjang bulan untuk mensucikan tahun yang berdebu…

    @nia: itulah kenangan, selalu menarik-narik ingatan kita, tapi dalam ketakberdayaan mewujudkannya seperti semula…

  2. pendar ramadhan memang tak akan redup,,, masa kanak-kanak yang luar biasa dengan letupan angan yang sederhana, tentunya akan selalu nikmat diingat pada tiap bulan suci ini berulang… tiba-tiba kita merasa ingin pulang…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s