Setelah Pinggul, Paha, Selanjutnya..?

Barangkali memang lebih banyak wanita yang lebih percaya diri dengan apa yang dipakainya daripada apa yang dipikirkannya.

Rasanya baru kemarin kita menyaksikan pinggul-pinggul wanita yang berkibaran lantaran model bawahan hipster (celana atau rok yang dikencangkan di bawah pinggul) yang dipadukan dengan baju agak pendek. Kini, gaya baru yang kita lihat di jalan-jalan, mal, atau malah di kampus, adalah wanita-wanita dengan paha terbuka. Trend celana pendek yang sekarang banyak digandrungi (tak hanya wanita muda) membuat paha-paha mereka bisa ditatap bebas, tak peduli apakah paha itu putih bersih, sawo matang, ideal, gemuk atau kurus, malah tak jarang kita juga mendapati paha yang selulit. Alahai…

Barangkali memang tak terlalu penting bagaimana bentuk pahanya, yang penting “ngegaya”. Karena kalau tak ikut trend, takut dibilang ketinggalan model. Lantas, siapakah yang diuntungkan dari fashion ini? Sudah pasti para desainer, hanya dengan bahan kain lebih sedikit, harganya tetap saja tidak lebih murah dari celana panjang. Yang diuntungkan lainnya adalah produsen krim pelembut dan pemutih kulit. Dan tentu saja, kaum lelaki – terutama yang matanya jelalatan dan pikirannya tak karuan. Ya, siapakah yang bisa menghalangi pikiran lelaki yang ingin mencolek paha itu? Atau bahkan lebih dari itu? Yang jelas, bukankan tak perlu lagi mengintip dari balik rok?

Pakaian sebagai produk kebudayaan memang terus berkembang bentuknya. Dari zaman baju baja (armor), jubah seperti yang dikenakan di timur tengah atau para rahib, semuanya pada awalnya adalah bersifat eksterior. Bahwa pakaian digunakan sebagai pelindung, seperti baju baja yang berabad-abad lalu untuk melindungi diri dari senjata tajam peperangan atau binatang buas. Dan jubah di timur tengah untuk melindungi dari debu padang pasir. Namun kini pakaian bukan sekadar pelindung saja, layaknya payung untuk menahan hujan atau terik matahari. Pakaian sudah bersifat lebih dari itu. Ia telah menjadi bagian dari diri pemakainya. Seorang yang mengenakan sebuah produk pakaian akan mengatakan, “It’s me!”—meski bisa saja ia tidak tahu mengapa, sekadar ikut trend, dan andaipun sesungguhnya itu sama sekali tak cocok untuknya. Yeah, bukankah selalu begitu?

Apa yang hendak kita katakan mendapati kenyataan banyak kaum wanita mengenakan celana pendek sekarang ini? Perlu juga kita renungkan apa yang dikatakan kritikus budaya Umberto Eco, bahwa wanita telah diperbudak model, tidak hanya karena adanya kewajiban bagi mereka agar terlihat atraktif, untuk mengesankan kelembutan, untuk menjadi cantik dan merangsang, yang membuatnya menjadi objek seks. Nah, apa hendak dikata? Sebab barangkali memang lebih banyak wanita yang lebih percaya diri dengan apa yang dipakainya daripada apa yang dipikirkannya.

Trend pakaian dari waktu ke waktu sebenarnya adalah sebuah sirkel, sebuah siklus lingkaran. Celana panjang yang ujungnya sangat sempit – karenanya agar telapak kaki bisa muat harus menggunakan kantong kresek— yang juga banyak digandrungi anak muda sekarang, itu pernah dialami remaja pada tahun 1990-an, dan bahkan jauh sebelum itu juga pernah trend di kalangan penyuka musik heavy metal dan punk. Meski memang, untuk trend celana hipster dan celana pendek untuk kaum wanita saat ini boleh jadi adalah penemuan abad ini– dipopulerkan Agnes Monica di layar kaca, yang sebenarnya juga meniru gaya Amerika.

Rasanya kita perlu juga was-was. Setelah penemuan model pakaian yang memperlihatkan selingkaran pinggul atau malah udel, dan sekarang paha, ke depan bagian mana lagikah dari tubuh perempuan yang akan dibiarkan terbuka? Anda berani membayangkan?[]

: catatan ini diterbitkan di Radar Bandung, edisi Senin (7/9)

Iklan

35 pemikiran pada “Setelah Pinggul, Paha, Selanjutnya..?

  1. Ha..ha..ha ya itulah mode, pantas atau tidak panatas tetap saja jadi tren, walapun sebenarnya mode itu berputar dari satu masa ke masa yang lain, btw, saya curiga inspirasi tuliasan ini muncul karena terlalu sering keliling kota Bandung lihat mojang geulis..ha..ha…

  2. dan tren ‘terbuka’ ini kadang membuat saya bingung, harus berterima kasih atau merasa sungkan kepada para wanita yang mengenakannya. karena bagaimanapun saya tetap lelaki normal.

    baidewei… tak lama di bandung, sudah nulis soal mode nih… hehehe…

  3. Waks..!!
    Mode emang nggak mau berhenti sejenak even bulan ramadhan.

    Karena mode sudah menjadi kendaraan, sesuatu dengan alasan mode menjadi sah-sah saja, menentang guratan selulit.

  4. @yulian: ya, banjarmasin juga kayaknya sudah dilanda demam “salawar handap”…

    @mansup: ..dan karenanya ada jasa untuk melayani pemenuhan adrenalin wanita itu, ya…?

    @aap: yang enak yang punya duit..,

    @benyamine: masalah, seringkali wanita tidak berpikira ketika mengikuti mode; apakah pantas atau tidak?– baik menurut etiket, moral, maupun agama.

    @pakacil: kalaupun harus berterima kasih, tampaknya harus ke barat…

    @adelays: mode, pada akhirnya adalah bagaimana memanjakan tubuh…

    @hahn: salam kenal juga. hmm…belum satu bulan di bandung, sudah dipanggil akang..

    @hajri: ya, dan akan menyusul tulisan2 lainnya, hehe… 🙂

  5. salam kenal…
    wah kalau mau membayangkan apa yang berikutnya agak susah juga. tapi kalau membayangkan apa yang terakhir, paling banter semuanya pada telanjang. mungkin karena kehabisan mode atau kehabisan resource untuk bahan pakaian karena krisis global. hehehe

  6. yaaaaa… itulah dunia,, penuh dengan keindahan yang merupakan jalan pintas menuju neraka.. nikmatilah.. pandanglah wanita yang seolah-olah kekurangan kain….hahahahhahhahaaha aku tak sanggup memandangnya… ya Allah lindungilah dan jagalah mata hambamu ini dari keindahan yang menyesatkan..aminn……

  7. sebagai laki-laki, juga ikut menunggu yang akan terbuka lagi bos….semoga ane selalu diberi kekuatan selalu tahan pada pandangan pertama….

  8. hiiiyyy… nggak berani, mas sandi.
    ternyata gaya vulgar bukan hanya menyerang wanita. tren di amrik juga ada gaya semacam buat lelaki, yakni dengan memelorotkan pinggang celana denim hingga kelihatanlah undies-nya, kalau perlu hingga belahan bokong. padahal bagi perempuan yang melihat, gaya ini sama sekali tidak memancing perasaan suka atau tertarik. kalau tertarik buat nimpuk sih iya. hihi…

    zaman memang sudah edan. dengan berpakaian seperti artis orang sudah merasa secantik artis. padahal pakaian itu sejatinya kan nyaman dan melindungi, ya seperti kata mas sandi itu. dan apa-apa yang cocok bagi seseorang belum tentu cocok bagi orang lain.

  9. @pargodungan: telanjang? saya meyakini sebenarnya banyak perempuan yang ingin tampil telanjang. Hanya saja masih ada norma yang membuat mereka tidak berani. Tapi, bukankah bule-bule di pantai udah pada telanjang?

    @jamil: saya pernah membaca; bahwa ketika tuhan menciptakan lelaki, ia mundur sejenak, lantas berucap, “hmm… aku bisa membuat yang lebih indah dari ini.” Maka, terciptalah perempuan…

    @randu: bukankah dunia ini sebenarnya adalah belantara akal dan nafsu?

    @anto: bila pandangan pertama lolos, selanjutnya terserah anda…

    @zian: tidakkah seharusnya hidayah dicari? — kalo tetangga saya nggak ada yg namanya hidayah, hee…

    @marshmallow: ya, mbak, selain memperlihatkan selingkaran pinggul, terkadang terlihat juga belahan “pipi bawahnya”.

  10. ada satu lg, lejing.. he he .klu rang bandung bilang mah munu’u.. zaman sekarang wanita dijadikan objek dalam banyak hal, menyedihkan!! tp spertinya mereka menikmatinya….. begitupun saya sebagai pedagang.

  11. Selain, “catatan ini diterbitkan di Radar Bandung, edisi Senin (7/9)”, seharusnya ada satu catatan kaki lagi “catatan ini terinspirasi dari paha-paha neng geulis Bandung”, gakgakgak..

  12. Assalamualaikum,….

    Inikah salah satu hikmah syariat menutup aurat bagi pria/wanita, dan menundukkan pandangan? Pakar AS meneliti pria yang melihat wanita berbusana seronok. Hasilnya, wanita terbayang bukan manusia.

    Masih perlukah aturan khusus berpakaian atau menutup aurat bagi pria dan wanita di zaman semodern dan sebebas seperti sekarang ini? Tampaknya temuan ilmiah terbaru memberikan masukan penting guna menjawab pertanyaan tersebut.

    Temuan ilmiah terkini menghasilkan penjelasan mengejutkan seputar wanita berpakaian hampir telanjang yang dilihat oleh kaum pria. Dalam otak lelaki yang memandangnya, gambaran kaum hawa berbikini, yang mengenakan baju mandi nyaris telanjang, dikenali bukan lagi sebagai manusia. Tapi mereka dianggap sebagai barang atau benda untuk dipergunakan. ini hasil kajian ilmiah terkini tentang perilaku kaum pria.

    Penelitian ini didasarkan pada pengamatan citra atau gambaran otak dengan menggunakan teknik “MRI brain scan”, yakni pemindaian otak melalui pencitraan resonansi magnetis. Ketika otak kaum lelaki yang sedang memandang gambar-gambar wanita nyaris tak berbusana dipindai, maka bagian otak tertentu ditemukan menyala terang. Bagian otak ini berhubungan dengan kegiatan menggunakan alat atau perkakas, misalnya obeng.

  13. satu dari beberapa ciri modernisasi yang westernisasi sekaligus goyang kapitalisme: yang diangkat adalah yang bisa dijual. dan yang sering kemasan lebih mahal daripada isi-nya. bagaiamana perempuan mau berkelit dari obyek, kalau mereka sendiri memang menjatuhkan posisi tawarnya….. [takut ah, sering2 liat itu… judul…he3]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s