Bandung; Apa yang Anda Pikirkan?

Kenyataannya memang tak banyak kembang yang kita jumpai di banyak jalan di kota ini – terkecuali “kembang-kembang” berjalan atawa neng geulis.

Bila Anda asli urang Sunda (baca: Bandung), pernahkah menanyakan kepada orang lain apa kira-kira yang terlintas di benaknya ketika pertama kali disebutkan nama Kota Bandung? Mungkin jawabnya adalah Kota Kembang—sesuai dengan julukan kota ini, seperti halnya Bogor disebut Kota Hujan.

Atau, ketika disebutkan Kota Bandung maka yang langsung terbayang adalah kesejarahannya (Bandung lautan api), gedung sate, kulinernya, atau justru neng geulis-nya? Ya, orang bisa menyebut apa saja sesuai dengan apa yang diketahui dan dipahaminya.

Dari sekian julukan dan identifikasi itu, apakah semuanya (masih) relevan? Siapakah yang tahu mengapa (dulunya) Kota Bandung disebut sebagai Kota Kembang? Apakah karena di kota ini banyak terdapat kembang? Atau kembang itu hanya metafora dari neng geulis? Hmm…, saya kira yang terakhir itu yang lebih tepat. Sebab, kenyataannya memang tak banyak kembang yang kita jumpai di banyak jalan di kota ini – terkecuali “kembang-kembang” berjalan atawa neng geulis.

Saya kira, tak salah memetaforkan gadis-gadis di kota ini dengan kembang; jenis tanaman yang memang banyak disuka bahkan dipuja, sampai-sampai kita juga mengenal ungkapan “kembang desa”. Dan urang Bandung pasti juga sudah jamak mendengar pujian-pujian terhadap kecantikan mojang parahyangan.

Hal lainnya yang kini juga menjadi perhatian kota-kota lain terhadap Bandung adalah perkembangan fashion-nya. Kota ini memang dikenal sebagai salah satu “kota mode” di Indonesia—barangkali karena itu juga mengBandung disebut sebagai Parijs van Java, selain nuansa kotanya; bangunan-bangunan tua peninggalan kolonial yang banyak terdapat hampir di tiap sudut kota, terutama kawasan Jalan Braga yang siang ataupun malam cukup ramai dengan pejalan kaki, juga café-café.

Sebagai “kota mode”, maka jadilah Bandung pusat perbelanjaan yang banyak didatangi dari pelbagai penjuru. Tak heran, factory outlet tumbuh menjamur — yang pada perkembangannya juga banyak ditiru di kota-kota lain. Bahkan ada yang memakai nama “Bandung Product’ seperti terdapat di kota Banjarmasin.

Begitulah, Bandung menjadi salah satu kota yang mungkin banyak diimpikan sebagai tempat yang nyaman untuk ditinggali. Karena selain sejuk, dengan banyak pohon-pohon tua, beragam kulinernya juga sangat terkenal. Dan keramahan urang Bandung bak sehangat bandrek, minuman khasnya yang banyak disuka.

Tapi, jangan lupa. Bandung kini juga terasa padat sehingga kemacetan terjadi di mana-mana. Saya pun menjadi khawatir, ketika ditanyakan: “Apa yang terlintas pertama kali ketika disebutkan nama Kota Bandung?” maka orang yang pernah ke Bandung akan memberi jawaban; “Macet pisan, euy…!” Nah, lho?![]

: catatan ini diterbitkan di koran Radar Bandung edisi Sabtu (10/10).

Iklan

27 pemikiran pada “Bandung; Apa yang Anda Pikirkan?

  1. Kalau ke Bandung, sakerang itu super macet, banyak sampah, alias sumpek.., beda Bandung dulu dan sekarang dan saya kira keramahan masyarakatnya tidak seramah logat bahasanya..

  2. terakhir kemarin ke bandung, memang begitu terasa kemacetannya yang luar biasa, jauh berbeda dengan sewaktu masih tinggal di sana.

    dan satu lagi, sewaktu tinggal di bandung (daerah cisitu) kok ya saya hampir tak ingat pernah melihat embun di pagi hari ya? *bingung sendiri*

  3. Bukan rahasia lagi mas.
    Bandung memang kota yang terkenal dengan macetnya sekarang, terutama di hari hari libur.

    Lama-lama, bukan tidak mungkin julukannya bisa saja berubah menjadi Sikota macet.

    Mudah-mudahan sih, jangan.

  4. #soulharmony: hehe… ya, di cimol.
    #yulian: semoga keramahan itu dari hati ya…
    #nia: klo nanti lewati lagi, mampir aja.
    #pakacil: kemacetannya sdh akut.
    #iyong: makanya banyak yg ke kalimantan..
    #hajri: tunggu tulisan ketiga.
    #benyamine: ibukota parijs van java juga.
    #adelay: semoga kemacetannya bisa diurai…
    #randu: smg masih sempat mikirin orang lain…
    #sandyagustin: mungkin sekarang aku yang malah bisa jadi guide ente wal, hehee…

  5. iya, semalam jadi guide-nya iwan lah… dibawailah ke… hehe. selamat ulang tahun, panjang umur, banyak rejeki

  6. #hajri: hehe…, ente kah pulang handak di-guide-i..? buh, mun ente bacari sorang lah…

    #Novi: apa kabar wal? lawas kada batamuan nah… ya, aku masih ingat, dulu (sekali) ente pernah cerita tentang seseorang di bandung.

  7. Waktu saya pertama kali datang ke Bandung, kesan pertama dalam otak saya, Bandung = ADEM!!
    Karena di kota kelahiran saya, Medan, udara tidak seadem Bandung.
    Sekarang, setelah lebih tiga tahun bolak-balik ke Bandung (karena saya mahasiswa yang tinggal di Jatinangor), kesan saya terhadap Bandung itu macet, sistem transportasinya kacau, dan padat. 😀

    Terima kasih Pak Sandi, sudah bersedia kami wawancarai. 😀

  8. Saya beberapa kali ke bandung, yang sering saya tuju ya ke Cihapit, tempat pasar kaset/CD loak/second. kalau lagi untung, bisa nemu yang OK…. pernah nemu CD Dream Theater album Image & Words… ya lmyn, lebih murah drpd di toko.. kaset2 Pierre Moerlen GONG, rock 70-an, dll… [kalau ttg neng geulis, apa tidak lebih dari 2 dari 3, tapi 9 dari 10 adlh cantik? ha3…… ketinggian ya kl nilai itu. ntar pd gede kepala perempuan2 bandung]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s