Bab Terakhir Novel Rumah Debu

Hanya Sebutir Debu

Di saat kamu membaca catatan ini, aku mungkin sedang berlayar entah di laut mana, entah ke negeri mana, atau di jalanan yang aku sendiri tak tahu namanya di sebuah kota yang mungkin aku juga tak tahu di mana; hanya orang-orang asing dan bangunan-bangunan asing, selebihnya juga keriuhan yang asing, atau mungkin aku sedang berada di sebuah tepian hutan, gunung atau pantai.

Aku tak beralamat. Aku tak memiliki sesuatu dan tak ada yang memiliki. Aku hanyalah seorang pejalan yang ingin melintasi seluas mungkin hamparan bumi Allah ini, dan karenanya terkadang aku akan terpuruk, bersujud, di tepi jalan, di tepi danau, atau di sebuah musala kecil di sudut bumi yang terpencil.

Aku hanyalah sebutir debu dalam genggaman angin…

***

Sejak pertemuan dengan ibu dan ayah kandungnya di malam di rumah berdebu saat ia disekap, Rozan telah memutuskan untuk pergi sejauh kakinya mampu melangkah, selayaknya pesan guru yang juga ayah angkatnya Guru Aran, bahwa seorang anak lelaki yang telah beranjak dewasa sudah seharusnya menziarahi setiap jengkal bumi ini, mengunjungi kota-kota jauh, negeri-negeri jauh, agar kelak keinginan itu tidak hanya mendekam di dalam dada menjadi sesuatu yang tak terperi, sesuatu yang takkan pernah bisa terwujudkan karena termakan usia.

Di beberapa kota dan negeri yang pernah disinggahinya, sesekali Rozan menyempatkan membuat catatan di dalam blognya; “Ruang Sunyi”. Karena itu, mungkin kamu pernah membacanya..?[]

: Ya, itulah bab terakhir dari novel Rumah Debu yang baru saja saya selesaikan (15/1/2010). Selanjutnya, semoga beruntung ada penerbit yang mau mencetaknya… (Terima kasih buat semua kawan yang terus “mempertanyakan” kapan novel ini bisa diselesaikan..)

Iklan

27 pemikiran pada “Bab Terakhir Novel Rumah Debu

  1. hajri: ya, bab-bab awalnya sengaja nggak ditampilkan wal.. Bab terakhir memang dibikin pendek seperti itu. (aku lagi nyiapin buat dibawa ke penerbit).

    iezul: trims.. mg suatu saat jg tecipta..

  2. “Aku hanyalah sebutir debu dalam genggaman angin …”

    cukup bab terakhir ini yang menjadi catatanku karena

    “Aku tak memiliki sesuatu dan tak ada yang memiliki”

    Selebihnya … siapa yang sanggup menghindar bila saatnya tiba menjadi debu, yang mungkin saja kembali ke rumah debu.

    Aku tidak lagi bertanya bab-bab sebelum bab terakhir ini, yang mungkin saja telah menjadi debu yang berada entah di mana.

  3. Kenapa kada wadah Hajriansyah ja menerbitkan. Ruang sunyi, pengembara, pasti Randu Alamsyah. Sip, ditunggu novelnya.

  4. >>wid: ya, br selesai..
    >>syafwan: klo novel ini dicetak dan best seller, pasti ada lanjutannya, hehee..
    >>benyamine: bab-bab sebelumnya belum jadi debu, dicetak aja belom.. 🙂
    >>anto: mestinya di-doain dulu supaya bisa dicetak penerbit, nto,,,
    >>dian: ya, mudah-mudahan…
    >>alief: ya, jelas aja, karena aku tak pernah nampilin bab-bab sebelumnya, hehe..
    >>zian: belom ada tawaran dari hajri, hehe…

  5. #hajri & dian: aku menyelesaikan novel itu seperti ibu yang melahirkan anak kembar (hehe..), penuh perjuangan dan menguras tenaga. jadi, istirahatlah sejenak dulu…
    #blue: trims. moga kelak kau bisa baca edisi buku (novel)nya… 🙂

  6. keren bang sandy moga jd inspirasi bg yg lain he he..bang Sandy main gtr smbl nyannyi kmbang pete lah kena kena he he..Oi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s