Menunggukah, Kau…?

….

Ya, cukup lama saya tidak menulis di blog ini.
Terakhir Ramadan lalu, sudah sekian bulan berlalu.
Tetapi, apakah memang ada yang benar-benar merindui tulisan saya di blog sederhana ini?
Apakah, misalnya, ketika seorang teman bertanya “Mana tulisan barunya?” itu berarti dia sungguh-sungguh menunggu tulisan saya? – meski harus saya akui, pertanyaan semacam itu kadang membuat saya “malu” – ya, malu karena lama tidak menulis lagi, dan malu apakah memang pantas tulisan saya ditunggu sedemikian rupa.

Saya juga kadang bertanya, mengapa lama sekali tidak menulis lagi.
Apakah saya kehilangan “daya” untuk menuliskan sesuatu?
Memang, perjalanan hidup telah membawa saya melewati pelbagai macam peristiwa – tapi bukankah memang begitulah hidup?
Nasib adalah kesunyian masing-masing, kata Chairil Anwar.

Tetapi, apakah memang ada yang benar-benar merindui tulisan saya di blog sederhana ini?
Yang kadang saya pikir barangkali hanyalah omong kosong – dan kalian tentu takkan mendapat apa-apa setelah membacanya. Dan andaipun kalian merasa mendapatkan sesuatu, itu bukanlah semata karena tulisan saya, tapi telah bercampur layaknya dua unsur kimia dengan pengalaman Anda.
Walau, sering juga saya terkesima ketika membaca kata-kata dari sebuah puisi atau novel, atau catatan apa pun (dan mungkin itu di antaranya adalah tulisan Anda), dan saya takjub. Kendatipun saya tak harus mengerti kata-kata itu, seumpama puisi gelap.

Saya tahu,
Saya masih tak tahu harus menulis apa setelah lama tak menulis.
Tapi setidaknya ini juga adalah sebuah tulisan, bukan?
Anggap saja, kita adalah dua kawan lama yang lama tak berjumpa. Dan saya masih merasa kikuk di depan Anda, dan tak tahu berkata apa…
Semoga nanti kita, tentu saja saya, bisa lebih banyak bercerita, sebelum blog ini yang saya andaikan sebuah taman benar-benar ditinggalkan karena tak terawat penuh rumput-rumput liar dan bangku-bangku yang semula berwarna putih menghitam berkarat layaknya sebuah hutan tak bertuan.

Menunggukah, kau…?[]

Iklan

8 pemikiran pada “Menunggukah, Kau…?

  1. #Zian: burinik? berarti selama ini lamas tanggalam.. 🙂
    #hajri: sesuatu yang berarti kadang berasal dari sesuatu yang kecil dan sering tak dipedulikan, seperti tulisan ini, hehe..
    #pelangituaku: aku sudah ke blogmu, keren..!
    #M. Athoillah: fb-ku sama dengan namaku di blog ini..

  2. Assalaamu’alaikum wr.wb, mas Sandy…

    Pertama kali menjenguk blog mas ini setelah sekian lama tidak bersapa di dunia maya.

    Harap kehadiran ini bisa menyambung semula silaturahmi untuk perkongsian ilmu dan hikmah.

    Terima kasih diucapkan untuk buku novel yang bakal dikirim kepada saya. Dengan gembira dan senang hati saya mengetahui maklumannya dari mas Sandy. Tiada ucapan yang mampu diluahkan selain TERIMA KASIH BANYAK-BANYAK.

    Salam mesra selalu dari Sarikei, Sarawak. 😀

  3. Tulisan saya istimewa, mas. Karena saya punya satu orang pembaca.

    Saya tidak mengenalnya, tidak tahu kapan dia membacanya, tapi saya percaya bahwa dengan bercerita padanya, dia akan merasa lebih baik.Harinya akan lebih cerah. Bahwa di dunia ini dia tidak sendiri. Bahwa masih ada yang percaya dongeng. Bahwa kesengsaraannya belum seberapa, dan menulis pun jadi tak mengapa.

    Untuknya, demi satu orang pembaca anonim yang akan mengistimewakan seluruh injil kehidupan kita, kita berkutat lagi dengan laptop lapuk, denging nyamuk, dan kalimat Vonnegut:

    “Write to please just one person. If you open a window and make love to the world, so to speak, your story will get pneumonia.”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s