Rumah Debu: Ketidakberdayaan dalam Segitiga Kekuasaan

Oleh: Aprinus Salam
Dosen Pascasarjana Prodi Sastra FIB UGM.

Pengantar: Perihal Tiga Kekuasaan
Awalnya, ketika membaca Rumah Debu, ada dugaan cerita akan berkitar pada kehidupan religi para santri. Sebagian tokohnya merupakan orang-orang pesantren dan ada kehidupan pesantren yang diceritakan di dalamnya meskipun tidak banyak kosa kata dari lingkup santri. Namun kemudian, cerita juga sedikit bergulir mengenai persaingan para preman dalam memperebutkan kekuasaannya menarik uang dari sopir-sopir truk pengangkut batu bara. Selain itu, ada pula penceritaan mengenai kehidupan keluarga seorang pengusaha pertambangan batu bara. Dari cerita-cerita itu, penulis novel ini seperti ingin menunjukkan kesalinghubungan ketiganya dalam membentuk suatu alur kisah kehidupan masyarakat di dalam novel.
Dalam pandangan Langland (1989: 4), masyarakat dalam karya sastra berbeda dengan masyarakat yang ada di dalam realitas. Menurutnya, masyarakat yang ada di dalam karya sastra memiliki fungsi sebagai bagian dari elemen pembentuk novel. Di sini, kehadiran masyarakat ditujukan oleh pengarang untuk mengungkap suatu maksud yang dengannya pengarang akan memosisikan tokoh-tokohnya pada peristiwa-peristiwa yang nanti akan mengembangkan karakter mereka. Melalui kehidupan pesantren, persaingan antarpreman, dan permasalahan keluarga pengusaha pertambangan batu bara, novel ini membangun masyarakat dalam suatu struktur kekuasaan. Tulisan ini akan memfokuskan bahasan pada masalah tersebut.
Secara garis besar, Rumah Debu mendedahkan tiga kekuasaan. Pertama, kekuasaan agama yang diwakili Guru Zaman. Kedua, kekuasaan uang yang direpresentasikan melalui tokoh Pak Ismail dan Ibu Diyang. Ketiga, kekuasaan fisik yang diwakili kelompok Pak Sawang dan Udin Tungkih. Pada akhirnya, tulisan ini akan menyoroti posisi Rozan, tokoh utama dalam novel ini, yang tidak masuk secara tegas ke dalam tiga struktur kekuasaan tersebut. Di sini, Rozan seakan ingin lepas dari ketiga kekuasaan itu dan membangun kekuasaan baru. Apakah Rozan berhasil membangun kekuasaan yang baru itu? Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, akan diuraikan dulu ketiga kekuasaan yang ada dalam novel ini.

Pesantren dan Guru Agama
Kekuasaan agama dalam novel ini terlihat pada keberadaan Guru Zaman yang mampu meredam beberapa perselisihan antara para preman (Firly, 2010: 19—20 dan 39–40) dan penghakiman massa terhadap sopir truk pengangkut batu bara yang menabrak seorang warga (Firly, 2010: 24). Status Guru Zaman sebagai seorang ustadz amat dihormati orang-orang di sekitarnya, termasuk para preman. Hal yang sama juga ditemui pada keluarga Pak Ismail yang memanggil Guru Zaman untuk mengajar ngaji anaknya
Kekuasaan agama milik Guru Zaman ini seperti menjadi semacam common sense bagi masyarakat. Hal ini ditunjukkan ketika Pak Ismail mengirim surat kepada Guru Zaman untuk meredam emosi warga setelah peristiwa tertabraknya seorang warga oleh salah seorang sopir truknya. Tentu, Pak Ismail berkata demikian karena tidak ingin usahanya bangkrut lantaran warga tak mengizinkan truknya lewat di jalan yang melintasi permukiman warga. Jadinya, agama di satu sisi dianggap sebagai jalan menuju kedamaian, agama melalui pemukanya, menjadi alat kendali para pemeluknya. Di sisi lain, Pak Ismail memanfaatkan agama menjadi jalan untuk kepentingan bisnisnya.
Akan tetapi, Guru Zaman yang dijadikan sandaran untuk penyelesaian masalah justru mengafirmasi langkah Pak Ismail yang sudah memberikan santunan kepada keluarga korban. Di sini, ada pertukaran kepercayaan kekuasaan yang dimiliki oleh masing-masing pihak. Guru Zaman justru mengamini bahwa penyelesaian masalah dengan uang sudah dapat meredam emosi warga yang menjadi korban tertabrak truk berikut orang-orang yang ditinggalkan korban tersebut. Padahal, Pak Ismail mempercayakan kekuasaan agama yang dimiliki Guru Zaman-lah yang akan mampu membuat suasana menjadi damai lagi setelah kasus kecelakaan terjadi.
Guru Zaman sebagai pemuka agama, di Rantau, yang menjadi sandaran warga ternyata tidak mampu berbuat banyak kepada masyarakatnya. Di sini fungsi agama dipertanyakan, dipertentangkan dengan motif ekonomi truk-truk batu bara yang melintasi jalan di dekat mushola. Sebagai perbandingan, Guru Zaman justru menyebut Kota Martapura sebagai kota santri yang mampu membuat truk-truk pengangkut batu bara di sana lebih ramah dalam berjalan sehingga tak membahayakan warga. Guru Zaman menyebut bahwa salah satu penyebab ramahnya truk-truk batu bara di Martapura karena banyaknya pengajian yang ada di sana. Solusi yang ditemukan ini ternyata tidak dicoba diterapkan oleh Guru Zaman di wilayahnya. Lebih parah lagi, Guru Zaman seakan pasrah dengan keadaan lingkungannya yang selalu terancam musibah:

….peristiwa tabrakan truk batu bara ini setiap saat bisa saja terjadi lagi, selama truk itu masih melintas di jalanan umum. Kamu pasti tahu, betapa seringnya truk batu bara menewaskan orang di jalanan. Mungkin lebih banyak dari yang pernah kita dengar, atau juga lebih banyak dari kucing dan anjing yang nyawanya juga berakhir di jalanan,” Guru Zaman setengah tersenyum, hambar. “Meski koran-koran tak henti memberitakan setiap peristiwa itu, tapi tetap saja tak ada solusi. Rencana pembangunan jalan khusus truk batu bara, hingga sekarang masih sebatas rencana-rencana, tak jelas kapan akan diwujudkan. Masyarakat sebenarnya sudah letih menghadapi hal ini. Tapi begitulah, seiring waktu setiap permasalahan akan terlupakan, sebab manusia sendiri mempunyai kesibukannya masing-masing sehingga ia tak melulu memikirkan hal itu. (Firly, 2010: 31)

Selain menunjukkan keputusasaan—yang sesungguhnya tidak diperkenankan dalam agama yang dipeluk Guru Zaman—kutipan di atas juga memperlihatkan gugatan. Gugatan itu tertuju pada para pemuka agama yang dipertanyakan kesibukannya. Apakah kesibukan mereka, yang selalu mengatasnamakan Tuhan dan kepentingan umat, hingga melupakan permasalahan besar di lingkungannya? Pula gugatan itu tertuju pada pemerintah yang sepertinya tidak memiliki kesibukan untuk mengatur masyarakatnya. Tentu, dalam hal ini yang disinggung adalah prosedur pertambangan batu bara yang harus mengindahkan lingkungan dan melibatkan warga sekitar dalam perundingan tanah mana yang layak jadi pertambangan. Selama ini, pemerintahlah yang dengan bebas mengizinkan tanah-tanah mana yang boleh dikeruk dan dikeduk untuk keuntungan pengusaha dengan keterlibatan warga yang minim hingga sering terjadi bentrok antara warga dan pekerja atau pemilik pertambangan.
Dapat dikatakan, Guru zaman dalam novel ini mewakili kalangan agamawan Islam (ulama) dalam masyarakat Indonesia. Di Indonesia, ulama cenderung diposisikan sebagai pemimpin nonformal. Dalil bahwa ulama dan umara (pemimpin) harus bersatu demi kesejahteraan rakyat menjadi legitimasi atas kesederajatan posisi ulama dengan umara. Bahkan, posisinya terkadang lebih tinggi dari pemimpin nasional ketika ada presiden yang mencium tangan seorang kiai. Meskipun demikian, peran ulama tetaplah terbatas dalam urusan agama. Ulama tidak bisa berbuat apa-apa ketika dipandangnya umara bersalah melanggar hukum agama. Sebaliknya, umara bisa menghukum seorang ulama apabila dipandangnya melanggar hukum negara.
Ulama berada dalam ambivalensi sikap. Jika mereka memasuki dunia politik praktis, mereka secara tidak langsung akan melepaskan kekuasaan nonformal yang telah dimilikinya. Kredibilitas mereka sebagai pemimpin akan turun di mata umat karena politik praktis dianggap sesuatu yang duniawi dan sekuler. Namun, ketika mereka memilih jalan untuk tidak berbarengan atau tidak selalu patuh pada pemimpin negara, mereka akan dituduh sebagai orang-orang yang tak tahu diri karena tidak memelihara hubungan baik antara ulama dan pemimpin sebagaimana yang dianjurkan oleh agama.
Dalam posisi ulama yang demikian, sikap putus asa Guru Zaman dapat dianggap wajar. Apalagi, selama ini pemerintah banyak mengamalkan dalil Machiavelli (1996: 72) bahwa agama hanyalah alat untuk melunakkan masyarakat agar tunduk kepada pemerintah. Sikap Guru Zaman yang putus asa dan tidak mau menerapkan solusi yang telah diketahuinya dari keadaan Kota Martapura dapat dikatakan adalah suatu perlawanan terselubung bahwa ia tidak mau menjadi alat negara untuk menundukkan masyarakat.

Pengusaha Batu Bara dan Istri Baru
Untuk melihat kekuasaan yang dimiliki oleh pengusaha batu bara dalam novel ini, ada baiknya merujuk rumusan Galtung mengenai kekuasaan, terutama kekuasaan materi. Seperti diterangkan Windhu (1996: 34) Galtung mengatakan bahwa kekuasaan dengan sumber materi atau uang merupakan kekuasaan yang bersifat renumeratif. Artinya, kekuasaan ini ada karena memiliki sesuatu yang ditawarkan. Dengan demikian, kekuasaan ini mengandalkan proses perundingan. Orang-orang diajak berunding dengan tawaran keuntungan materi yang akan diraih.
Apa yang dimiliki oleh Pak Ismail adalah uang yang berlimpah. Dalam kasus Pak Ismail, uang tidak hanya bermakna sebagai alat tukar. Fungsi konvensional uang sudah lebih dari itu hingga muncul fungsi politis. Dengan demikian, terjadi proses monetesi di mana apa-apa diukur uang. Dengan uang yang dimilikinya, Pak Ismail berkuasa atas seluruh pertambangan batu bara berikut jalan sepanjang jalur yang dilalui oleh para sopir truknya dan masyarakat yang ada di sekitarnya. Arti simbolis uang kemudian lebih penting daripada arti pentingnya yang nyata, lantaran makna simbolisnya adalah penyebab timbulnya uang itu sendiri (Duncan, 1997: 17). Penyebab timbulnya uang itulah yang kemudian menjelma menjadi terma lain, yakni pekerjaan. Pekerjaan menjadi tawaran untuk berkuasa bagi Pak Ismail. Lalu datanglah para pekerja dari para ahli, buruh, sopir truk, hingga mungkin warung-warung pinggir jalan. Pembukaan pertambangan batu bara menjadi lahan pekerjaan sekaligus lahan kekuasaan baru bagi Pak Ismail.
Tidak dijelaskan dengan rinci apakah Pak Ismail putra daerah atau bukan. Dilihat dari wataknya yang tidak mau berhubungan dengan masyarakat sekitarnya serta adanya permusuhan diam-diam masyarakat dengan pengusaha itu menujukkan bahwa ia secara emosional tidak cukup berakar di daerah itu karena ketidakpeduliannya terhadap daerahnya. Hal ini mungkin akan lain jika ia memiliki memori kolektif sebagai putra daerah yang sama dengan masyarakat sekitarnya sehingga kemungkinan adanya permusuhan sangat kecil. Di novel juga tidak ditemukan warga-warga yang mendapatkan pekerjaan setelah ada pertambangan batu bara. Kalaupun ada, hanya para preman, bukan tenaga lainnya.
Sebagai seorang pengusaha, terlihat jelas betapa Pak Ismail menjaga jarak dengan masyarakat di sekitarnya. Komunikasinya dengan para warga hanya diperantarai oleh kelompok preman yang dimilikinya. Jenis komunikasi ini memperlihatkan betapa ia tidak ingin dekat atau sekadar berurusan dengan para warga di sekitarnya. Pak Ismail hanya berinteraksi dengan Guru Zaman dan Rozan serta para premannya. Interaksinya ini pun dilandasai atas dasar perannya sebagai tuan, sebagai orang yang mampu menundukkan Guru Zaman dan Rozan serta preman-preman anak buahnya di bawah kekuasaan uang yang dimilikinya.
Selain itu, novel ini juga menyinggung kebiasaan para pengusaha batu bara yang memanfaatkan kekayaannya untuk memiliki istri muda. Termasuk disebut secara eksplisit seorang pengusaha asal Banjar yang berhasil menikahi seorang penyanyi dangdut di Jakarta. Bagi masyarakat Banjar, memiliki istri lebih dari satu adalah suatu prestasi. Apabila seorang pengusaha menyunting istri kedua atau ketiga, mereka tak canggung mengabadikan diri dengan memanggil wartawan. Memiliki istri banyak adalah suatu kebanggaan yang sudah dikekalkan lewat sebuah ungkapan: “Biar susah harta, asal sugih bini.” (Biar miskin harta, asal kaya istri) (Firly, 2010: 38)
Melalui ungkapan tersebut, dapat diketahui bahwa ada persaingan diam-diam antarlelaki Banjar dalam mempersitri seorang perempuan. Pengusaha, yang memiliki banyak kekayaan tentu tidak ingin tersindir dengan ungkapan itu. Masakah mereka yang miskin mampu memiliki banyak istri sedangkan ia yang kaya tidak. Kekayaan kemudian menjadi suatu alat untuk meningkatkan kehormatan dengan cara mempersunting banyak istri. Dalam hal beristri ini, secara eksplisit novel ini mengatakan bahwa saingan terdekat para pengusaha batu bara adalah para ulama. Di Banjar, para ulama juga dikenal memiliki banyak istri, tetapi jarang diekspose media massa (Firly, 2010: 68—69)
Pengusaha menjadikan media massa sebagai alat untuk meningkatkan kehormatan, tetapi ulama enggan berhubungan dengan media massa. Memang, bukan ulama yang melarang media massa untuk meliput pernikahan mereka, melainkan umat mereka. Kasus ini menunjukkan bahwa kekuasaan dua golongan ini mencapai taraf kehormatan yang berbeda di mata masyarakat dalam hal beristri. Pengusaha memiliki istri banyak demi kebutuhannya untuk meninggikan kehormatannya di mata masyarakat, tetapi ulama sudah tidak membutuhkan prestise itu lagi. Siapa pun yang sudah dicap ulama, bahkan baru sekadar disebut ustadz pun sudah memiliki kehormatan yang tinggi sehingga “sudah jamak, orang tua mendatangi ustadz atau ulama menawarkan anak gadisnya untuk dijadikan istri; entah dijadikan istri kedua atau ketiga”(Firly, 2010: 31).
Dari uraian di atas diketahui bahwa kekayaan yang dimiliki oleh Pak Ismail dimanfaatkan dengan dua cara. Pertama, menyewa jasa preman untuk mengukuhkan kekuasaannya atas pertambangan batu bara dan lingkungannya (akan dijelaskan pada uraian berikutnya). Akibatnya, kekuasaan fisik para preman terkooptasi oleh modal uang yang dimiliki Pak Ismail. Kedua, untuk turut pula bersaing (kekuasaan) dengan para ulama, Pak Ismail menambah istri dengan menyunting seorang wanita muda. Pak Ismail menikahi Sarah Hidayati, tetapi tidak tinggal serumah dengan Ibu Diyang, istri tuanya. Kemudian timbul konflik antara Ibu Diyang dengan Pak Ismail. Konflik ini berujung pada perbuatan kriminal Ibu Diyang yang menculik Rozan karena merupakan anak dari Sarah Hidayati, tetapi bukan darah daging Pak Ismail. Dalam melakukan perbuatan tersebut, Ibu Diyang meminta bantuan para preman dengan membayar mereka.

Tacut dan Mitos-Mitos Kontemporer
Barangkali hanya kata tacut yang mampu mewakili lokalitas novel ini. Tacut merupakan sebutan untuk para preman di Banjar. Keberadaan mereka erat kaitannya dengan pertambangan batu bara, yakni mereka yang mengamankan lingkungan pertambangan dan melindungi truk-truk batu bara dari gangguan. Pertambangan batu bara, ternyata membuka lapangan pekerjaan baru berupa jasa keamanan dari para preman. Menariknya, novel ini justru menunjukkan permusuhan diam-diam antara warga di sekitar pertambangan dengan pihak-pihak yang bekerja di pertambangan.

Jalanan lantas menjadi macet, truk-truk dan mobil-mobil bergerak bagai merayap. Namun, tak ada sumpah serapah yang diteriakkan–hanya bergema di dalam rongga-rongga jiwa terdalam (Firly, 2010 : 5)

Novel ini menunjukkan banyaknya kerugian yang diterima warga karena adanya pertambangan batu bara. Alih-alih mendapatkan lahan pekerjaan, mereka justru mendapat polusi lingkungan dari asap-asap knalpot truk, debu-debunya, suara bisingnya, kemacetan yang ditimbulkannya, hingga terkadang korban jiwa karena tertabrak. Secara implisit, novel ini ingin menunjukkan kesenjangan antara pengusaha batu bara dengan masyarakat sekitarnya. Keuntungan besar dari batu bara yang terjual setiap harinya seakan tidak sampai di tangan masyarakat. Di sinilah peran preman dibutuhkan oleh pengusaha karena ada saja warga yang tidak terima dengan keadaan—atau lebih tepat kesenjangan—ekonomi mereka lalu mengompasi sopir truk atau sengaja memblokir jalan agar truk tak bisa lewat ketika terjadi insiden kecalakaan.
Yang menarik, kekuasaan fisik yang dimiliki para preman bukan terletak pada kekuatan fisik bilogisnya, melainkan dari mitos yang bercerita mengenai kekuatan mereka. Mitos ini diceritakan lengkap dengan nama-nama unik yang berkaitan dengan keistimewaan yang dimiliki para preman. Tentu, hal ini merupakan alat untuk menaikkan harga sewa jasa para pengusaha pertambangan dan juga membuat lawan mereka berpikir dulu sebelum berperkara. Misalnya, Udin Tungkih, yang merupakan tokoh preman yang menariki uang dari sopir-sopir truk milik Pak Ismail. Ia mendapat julukan Tungkih setelah tidak kebal dibacok senjata tajam (Firly, 2010: 37). Begitupun dengan Pak Sawang yang kesaktiannya tersebar karena mampu membunuh empat perampok berilmu tinggi sekaligus ketika masih muda.
Dalam novel ini, Pak Sawang menjadi representasi kekuasaan fisik paling baik yang bekerja melalui mitos. Melalui tokoh ini, jasa keamanan ditunjukkan hanya dengan sekadar menyebut namanya saja. Dalam kisah itu, yang bekerja bahkan bukan lagi tenaga fisik Pak Sawang, tetapi mitos mengenainya yang bekerja:

Karena Sawang merasa dengan hanya menyebutkan namanya saja orang sudah bisa disebut bekerja, ia pun tidak keberatan. Seperti itulah, apabila ada orang lain yang mencoba mengganggu bisnis batu bara Pak Ismail, maka cukup diucapkan kalimat; “Anda tahu, siapa kepala keamanan di sini? Kenal Pak Sawang?” maka niscaya siapa pun akan gentar mendengarnya, karena ada mitos yang lebih dulu hidup di sekitar diri Sawang (Firly, 2010: 38).

Sebagaimana diterangkan Barthes (2010: 296) apa pun dapat menjadi mitos jika hal itu disampaikan lewat wacana. Cerita mengenai keampuhan para pimpinan preman adalah wacana yang sengaja dibangun guna mencapai kekuasaan. Bagaimanapun, tegas Barthes, mitos itu suatu pesan. Lalu pesan apa yang ingin disampaikan oleh wacana mengenai preman di atas? Pesan itu tak jauh dari motif kekuasaan yang ingin dicapai pihak-pihak tertentu. Wacana itu mengandung suatu pesan bahwa siapa pun harus tunduk kepada orang yang diceritakan dalam mitos karena apabila tidak menurut, akan menjadi mitos baru bagaimana kesaktian pemimpin preman itu bekerja dalam membasami musuhnya atau orang-orang yang tak percaya. Menariknya, yang menyebarkan wacana kesaktian pemimpin preman itu bukanlah ia sendiri, tetapi anak buahnya.
Melalui para anak buahnya, mitos mengenai kesaktian para pemimpin menyebar, menjadi realitas yang dipercayai oleh masyarakat yang mendengarnya. Yang terjadi kemudian, tidak seperti tawar-menawar dalam perundingan kekuasaan yang renumeratif, adalah kekuasaan dengan model menyebar ketakuan melalui ancaman. Selama ketakutan tetap dipelihara, melalui mitos yang dikembangkan atau selalu diperbaharui, selama itu pula para preman akan terus berkuasa.
Kekuasaan yang dimiliki oleh para preman ini kemudian bekerja berdasarkan asas ketakutan. Kekerasan fisik yang mereka miliki kemudian hanya menjadi ancaman, tanpa tindakan sama sekali. Artinya, bukan kekerasan fisik yang dijalankan mereka, tetapi ancaman tentang kekerasan yang akan diterima orang apabila melawan mereka. Terlebih, tidak ada celah untuk melawan karena mitos kesaktian pimpinan preman telah mengukuhkan kekuatan itu.
Begitu besarnya kekuasaan mitos mengenai kekuatan fisik para pemimpin preman tidak dapat lepas dari perannya sebagai runtutan wacana. Menurut Althusser, wacana cenderung dipahami sebagai ideologi dalam praktik. Ideologi sendiri menurut Althusser adalah sesuatu yang bersifat imajiner (dalam (Belsey, 1980: 58), atau dalam bahasa Marx, ideologi adalah sebuah kepalsuan. Cerita mengenai Udin Tungkih yang tak mempan dibacok parang dan Pak Sawang yang mampu membantai empat perampok yang menyambangi rumahnya bukanlah suatu kenyataan yang hadir di hadapan para pendengarnya. Cerita itu sudah dikonstruksi ulang oleh para anak buah pimpinan preman guna kepentingan kekuasaan. Cerita itu juga merupakan perlawanan dari cerita-cerita lain mengenai tacut lain seperti Amat Senso yang tak mempan dipotong gergaji mesin, Jalu Dayak yang mengandalkan kesaktian suku dayak, dan Usuf Beruang yang mampu memenangkan perkelahian melawan seekor beruang dengan membunuhnya lalu memanggulnya keluar dari hutan (Firly, 2010: 37).
Dengan demikian, terjadi peperangan kekuasaan di antara para preman melalui mitos-mitos yang dibuatnya. Ironinya, yang menang dalam peperangan itu akan ditundukkan oleh kekuasaan uang yang dimiliki pengusaha. Persis seperti tunduknya Udin Tungkih kepada Ibu Diyang dan tunduknya Pak Sawang kepada Pak Ismail karena kebergantungan dana ketergantungan mereka terhadap uang. Meskipun demikian, yang patut menjadi perhatian adalah bahwa ketika terjadi peperangan kekuasaan melalui mitos, kekuatan fisik ternyata tidak digunakan sama sekali oleh orang-orang yang memilikinya sehingga di masyarakat tidak terjadi tindak kriminal dengan kekerasan. Maka wajar ketika suatu waktu polisi mengadakan razia preman di sekitar wilayah pertambangan, sejumlah preman ditangkapi tetapi tidak lama langsung dibebaskan begitu saja karena terbukti tidak melakukan kekerasan kepada masyarakat (Firly, 2010: 45).

Ketidakberdayaan Rozan
Seperti diuraikan di atas, kekuasaan agama yang dimiliki Guru Zaman tidak dapat berbuat banyak dalam mengubah keadaan lingkungannya. Kekuasaannya hanya ada dalam tataran untuk ibadah, tidak lebih dari itu. Sementara kekuasaan fisik milik para preman hanya dapat diandalkan untuk menakut-nakuti orang-orang yang ada di sekitarnya. Kekuasaan fisik tidak dapat memberikan kesejahteraan kecuali ancaman ketakutan imajiner yang semakin menjadi nyata. Sementara itu, kekayaan materi yang dimiliki Pak Ismail tidak dapat membawa kesejahteraan untuk objek-objek yang ada di sekitarnya. Apalagi, kekuasaan materi ini selalu mengandalkan aspek ketergantungan yang harus terus dipelihara pada objek yang menjadi sasaran kekuasaannya.
Dalam menanggapi taksonomi ketiga kekuasaan di atas itulah sejatinya Rozan dapat memberikan peran penting dengan pengetahuan yang dimilikinya. Sebagaimana pandangan Toffler (1992: 17) pengetahuan seringkali dapat digunakan untuk membuat pihak lain menyukai agenda kita untuk bertindak dan bahkan membujuk orang supaya membuat kekuasaan bagi kita. Bahkan menurut Toffler, dengan pengetahuan yang besar, seseorang dapat memotong situasi yang buruk sehingga bisa menghindari kekerasan (yang dilakukan para tacut) atau kekayaan (yang dimiliki Pak Ismail) yang sia-sia sekaligus. Rozan memiliki pengetahuan bukan saja dalam bidang agama seperti yang dimiliki Guru Zaman, melainkan juga pengetahuan umum dan teknologi. Apakah pengetahuan yang dimilikinya itu dapat dimaksimalkan oleh Rozan untuk menyusun kekuasaannya?
Dalam lembaga pesantren, Rozan hadir sebagai anak seorang santri yang dihamili seorang warga. Ibunya meninggalkan Rozan yang masih bayi di rumah pengasuh pesantren. Ia lantas menjadi guru ngaji di Langgar Ar-rahim dan madrasah pimpinan Guru Zaman. Ayah kandungnya adalah Jantra, salah seorang anak buah Pak Sawang yang merupakan preman bayaran Pak Ismail, orang yang kemudian menikahi ibunya. Berada dalam segi tiga kekuasaan itu, posisi Rozan tidak menentu memihak ke mana. Kehadirannya di dalam cerita jarang mandiri. Ia lebih sering dihadirkan sebagai pelengkap kehadiran Guru Zaman. Meskipun ia tokoh utama yang menjadi saksi hidup dari kompleksitas lingkungannya, Rozan lebih banyak diceritakan melamun daripada bertindak. Bahkan, narasi tentang ketidakmanfaatan pertambangan batu bara justru banyak diceritakan melalui tokoh Guru Zaman.
Posisi Rozan yang demikian lemah dalam kekuasaan ini tidak lepas dari sifat berdiam dirinya yang cenderung berlebihan. Ia lebih memilih melamun sembari memandang senja daripada berinteraksi dengan masyarakat di sekitar tempat mengajarnya. Ia tahu mengenai dampak buruk pertambangan batu bara melalui internet, padahal lingkungan tempat tinggalnya mampu menyuguhkan fakta yang lebih nyata. Jika pun ada tindakan nyata, ia hanya mengajar ngaji di mushala dan mengajar di madrasah. Atau, paling banter, ia menuliskan isi hatinya dalam sebuah laman di internet.
Sikapnya ini merupakan akumulasi dari perasaannya yang merasa tidak diperhatikan oleh orang tuanya. Ia merasa terasing dan tak mendapatkan hak kasih sayang dari kedua orang tuanya (Firly, 2010: 7). Sejak kecil, ia sudah sering disuguhi cerita-cerita pengembaraan oleh orang tua angkatnya. Cerita-cerita tersebut membuat dirinya berpikiran bahwa kehadirannya seperti tidak diharapkan dalam keluarganya. Di rumah, dengan izin ayah angkatnya, Guru Aran, ia lebih banyak menghabiskan waktu untuk browsing internet. Secara konotatif, hal ini merupakan salah satu jenis pengembaraan yang secara tidak sadar sudah dimulai oleh Rozan. Kebiasaan ini pula yang akhirnya dibawa sampai ke Kota Rantau ketika ia menjadi guru di madrasah.
Pengembaraan yang bermula dari perasaan kurang kasih sayang ini toh pada akhirnya menjadi sebuah pelampiasan, bukan penjelajahan. Hal ini dapat dilihat dari niat batin Rozan membuat sebuah blog bernama “Ruang Sunyi”:

Dalam “Ruang Sunyi” Rozan menampilkan tulisan-tulisannya, perenungannya, atau hanya sekadar epigram, puisi-puisi pendeknya. Rozan merasa lebih nyaman menulis, tentang apa saja, ke dalam blog karena selain ia tetap bisa menyembunyikan identitasnya, juga ia merasakan sedikit keriangan apabila puisi-puisi atau tulisannya mendapat komentar dari sesama blogger atau siapa saja yang berkunjung di blognya. Seakan ia adalah seseorang yang hanya Nampak bayangannya saja; terlihat tapi tak jelas (Firly, 2010: 14)

Petikan di atas memperlihatkan betapa Rozan menginginkan perhatian yang lebih besar dari lingkungannya dari apa yang selama ini telah diterimanya. Bahkan, dalam waktu-waktu tertentu Rozan membayangkan dirinya sebagai orang lain dari menjadi penulis novel, pendemo, hingga pernah membayangkan dirinya menjadi seorang perempuan. Itu semua merupakan ekspresi pelariannya atas kenyataan yang dijalaninya. Di sini terlihat jelas, ketidakberdayaan Rozan dalam menghadapi kenyataan hidupnya. Sebelum ia matang menjadi seorang pribadi, tiba-tiba ia diharuskan ayah angkatnya, Guru Aran, untuk merantau. Dalam perantauan itu, ia menemukan kenyataan yang lebih pahit dari apa yang pernah dirasakannya selama tinggal di pesantren. Kejadian-kejadian yang ditemuinya di sekitar pertambangan batu bara menyadarkan dirinya bahwa di hadapannya membentang kehidupan yang keras dan kasar (Firly, 2010: 45).
Kesadaran yang dimiliki Rozan itu ternyata tidak membuatnya menjadi manusia yang peduli terhadap lingkungannya. Ia tidak meleburkan masalah pribadinya dengan melakukan serangkaian strategi untuk mengubah keadaan lingkunganya. Dengan posisinya sebagai anak biologis seorang preman (Jantra), anak tiri pengusaha batu bara (Pak Ismail), dan anak angkat pemilik pesantren (Guru Aran), sepatutnya ia bisa berbuat banyak kepada masyarakatnya. Ia masuk dalam ketiga golongan yang selama ini diam-diam memendam permusuhan.
Dengan pengetahuan agama yang dimilikinya sejatinya ia dapat saja menyebarkan arti penting kebersamaan dan persatuan warga lewat serangkaian dalil agama. Pun dengan pengetahuannya ia bisa mengubah cara pandang para preman bahwa hidup tidak hanya bergantung pada materi para pengusaha. Seorang preman, dengan kekuatan fisiknya dapat menjalani pekerjaan yang lebih baik daripada yang selama ini dijalani dengan terus memelihara ketakutan warga di sekitaranya. Sebagai bukti, dirinya yang anak seorang preman toh tidak menjadi preman juga. Dan tentu, dengan pengetahuan teknologi yang dimilikinya, ia dapat mengabarkan ke seluruh dunia mengenai kehidupan kelam di sekitar pertambangan di Rantau untuk sekadar mendapatkan perhatian dunia agar ada yang peduli dan ikut mengubah keadaan di sana.
Akan tetapi, pengetahuan yang dimiliki Rozan tidak mampu digunakan dengan baik. Rozan, sejak kecil tidak mau membayangkan dirinya sebagai ustadz. Profesi sebagai ustadz dianggapnya akan dapat menyebabkan dirinya menjadi seorang yang melankolis, yang ruang geraknya terkungkung pada wilayah pesantren. Jadi, sebetulnya Rozan merasa—meminjam istilah Marx—teralienasi ketika mengajar ngaji dan menjadi guru di madrasah yang diasuh Guru Zaman. Bahkan, dilihat dari gaya berpakaiannya ketika mengajar ngaji, Rozan sudah menunjukkan ketidakinginannya menjadi seorang ustadz:

Penampilan Rozan bukanlah seperti ustadz-ustadz yang mereka kenal selama ini dengan pakaian gamis, berpeci dan bersarung. Ustadz yang dikenalkan Guru Zaman ini adalah seorang anak muda bercelana jeans dengan peci hitam—tapi lebih mirip dengan penutup kepala yang digunakan orang-orang timur tengah; tutup atas lebar seperti kue lempeng, –serta berkemeja kota-kotak lengan panjang tergulung yang kancing bajunya dibuka semua sehingga memperlihatkan gambar tokoh Kuba, Che Guevara, pada kaos hitam di dalamnya (Firly, 2010: 11)

Rozan lebih menunjukkan ketidakpeduliannya terhadap lingkungan sekitarnya ketika telah mengetahui bahwa ayah kandungnya adalah seorang preman, Rozan memilih pergi dari Kota Rantau. Ia memilih mengembara, untuk menjelajahi dunia. Apologi Rozan menarik untuk disimak:

….seorang anak lelaki yang telah beranjak dewasa sudah seharusnya menziarahi setiap jengkal bumi ini, mengunjungi kota-kota jauh, negeri-negeri jauh, agar kelak keinginan itu tidak hanya mendekam di dalam dada menjadi sesuatu yang tak terperi, sesuatu yang takkan pernah bisa terwujudkan karena termakan usia (Firly, 2010: 91).

Dari petikan tersebut, terlihat jelas pengalihan perasaan Rozan atas ketidakberdayaannya dalam menghadapi kenyataan. Keputusan Rozan untuk mengembara merupakan sebuah pertanda bahwa ia tidak dapat melawan kekuasaan yang ada di sekelilingnya. Tiga kekuasaan yang ada di sekitarnya mengungkungnya untuk bertindak diam dan patuh. Padahal, sebuah kekuasaan menurut Foucault (2002: 111) harus diwujudkan dalam sebuah tindakan karena kekuasaan itu tidak diberikan (dari Jantra dan Guru Aran ke Rozan), tidak ditukar (antara Pak Ismail dan Guru Zaman), dan tidak dicari (Rozan dalam ruang-ruang maya internet). Namun, bukankah keputusan Rozan untuk mengembara adalah suatu tindakan? Dapat dikatakan, tindakan Rozan untuk mengembara bukanlah suatu tindakan dalam rangka penguasaan. Terlihat jelas, bahwa pengembarannya justru menjadi objek kekuasaan dari petuah ayah angkatnya yang sedari kecil telah menngisahkan cerita-cerita mengenai pengembaraan. Semenjak kecil, telah ditanamkan pada diri Rozan bahwa pengembaraan merupakan jalan bagi seorang lelaki dewasa.
Dari uraian di atas dapat diambil beberapa kesimpulan bahwa Rumah Debu, menyajikan tiga kekuasaan yang berhasil dibangun dengan menarik melalui tokoh-tokoh seperti Guru Zaman, Pak Ismail, dan Pak Sawang serta Udin Tungkih. Meskipun demikian, kekuasaan mereka tidak menjadikan keberartian bagi lingkungan yang ada di sekitarnya. Kekuasaan mereka adalah kekuasaan yang saling ingin mengungguli satu sama lain tanpa ada kemauan untuk menyatukan kepentingan bersama. Kekuasaan mereka adalah kumpulan ketidakberdayaan. Harapan penyatuan sepertinya ada dalam tokoh Rozan, tetapi tidak mampu diwujudkan dengan baik. Rozan pun ternyata mengalami ketidakberdayaan. Hal ini seperti mengandung pesan bahwa modal kekuasaan yang dimiliki oleh seseorang belum tentu menjadikannya sebagai penguasa apabila modal itu justru mengungkungnya. Hal ini semakin jelas terlihat dari akhir cerita yang menyuguhkan keputusan Rozan untuk mengembara, baik dalam alam maya melalui “Ruang Sunyi” maupun alam nyata.

DAFTAR PUSTAKA

Barthes, Roland. 2010. Membedah Mitos-Mitos Budaya Massa. Yogyakarta: Jalasutra.
Belsey, Chaterine. 1980. Critical Practice. London and New York: Methuen
Duncan, Hugh Dalziel. 1997. Sosiologi Uang. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Foucault, Michel. 2002. Power/Knowledge, Wacana Kuasa/Pengetahuan. Yogyakarta: Bentang Budaya
Firly, Sandi. 2010. Rumah Debu. Banjarmasin: Tahura Media. Format PDF.
Langland, Elizabeth. 1984. Society in the Novel. Chapel Hill and London: The University of North Carolina Press.
Machiavelli, Niccolo.1996. Politik Kerakyatan (Discorsi). Jakarta: KPG.
Toffler, Alvin. 1992. Pergeseran Kekuasaan. Jakarta: Pantja Simpati
Windhu, I Marsana.1992. Kekuasaan dan Kekerasan Menurut Johan Galtung. Yogyakarta: Kanisius.

Iklan

4 pemikiran pada “Rumah Debu: Ketidakberdayaan dalam Segitiga Kekuasaan

  1. Assalaamu’alaikum wr.wb, Sandy….

    Membaca “bedah” buku dari saudara Aprinus Salam sangat mengasyikkan. Beliau mengintepratasi novel ini dari sudut yang lebih ilmiah dan bermakna. Jelaslah bahawa novel ini boleh memberi banyak ide-ide bernas yang menjurus kepada percambahan minda yang berkesan.

    Tahniah dan salut buat Sandy yang telah menghasilkan karya perdana dengan jayanya.

    Salam mesra dari Sarikei, Sarawak.

  2. membaca ‘resensi” diatas membuat saya penasaran tuk membacanya terutama
    di bagian yang berlatar pesantren
    Ketidakberdayaan Rozan
    Seperti diuraikan di atas, kekuasaan agama yang dimiliki Guru Zaman tidak dapat berbuat banyak dalam mengubah keadaan lingkungannya. Kekuasaannya hanya ada dalam tataran untuk ibadah, tidak lebih dari itu. Sementara kekuasaan fisik milik para preman hanya dapat diandalkan untuk menakut-nakuti orang-orang yang ada di sekitarnya. Kekuasaan fisik tidak dapat memberikan kesejahteraan kecuali ancaman ketakutan imajiner yang semakin menjadi nyata. Sementara itu, kekayaan materi yang dimiliki Pak Ismail tidak dapat membawa kesejahteraan untuk objek-objek yang ada di sekitarnya. Apalagi, kekuasaan materi ini selalu mengandalkan aspek ketergantungan yang harus terus dipelihara pada objek yang menjadi sasaran kekuasaannya.

    mungkin bisa menjadi suatu inspirasi bagi kami insan pendidik yang mungkin [unya latar belakang yang g aakan jauh berbeda
    apakah di Jawa ada ya mas?

  3. membaca ulasan di atas, aku merasa sedang terdampar di sebuah tempat yang paling tandus dan gersang di bumi ini. gambaran tentang truk-truk batu bara, debu dan kemacetan jalan, perkelahian preman serta ketak-berdayaan rozan sungguh menggetirkan… novel yang luar biasa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s