Salat Jumat di Makkah

Jumat (16/7) lalu saya seperti salat jumat di Makkah…

Saya ingat, waktu kecil di kampung halaman jauh di pesisir Kalteng sana, saya sering mendengar para orangtua bicara tentang Haji Mail (saya tak terlalu yakin namanya benar, tapi anggap saja itu namanya). Setiap datang waktu salat Jumat, Haji Mail tidak pernah terlihat pergi ke Masjid.

Salah satu Haji terkaya di kampung saya yang usianya sekitar 60 tahun itu justru kadang terlihat duduk di depan rumah dengan baju kaos oblong tanpa lengan. Karena kampung kecil, maka sesiapa saja yang pergi salat Jumat dan siapa saja yang tidak, pasti diketahui. Dan Haji Mail ini adalah salah satu yang tidak pernah terlihat pergi ke masjid, entah sejak berapa tahun…

Maka, orang-orang pun kadang membicarakannya. Maklum, sudah bergelar haji, tapi kok tidak pernah terlihat ke masjid untuk salat Jumat. Dari bermacam dugaan, salah satu yang pernah saya dengar dari para orangtua bicara adalah begini, “Mungkin saja beliau itu salat Jumat di Makkah. Bukankah sering pula kita dengar cerita, pada saat musim haji ada orang yang sebenarnya tidak naik haji tapi ternyata berada di Makkah…”

Ya, pada saat bersamaan, seseorang berada di dua tempat. Apakah Haji Mail memang salat Jumat di Makkah atau tidak, saya tidak pernah tahu pasti… Yang saya tahu, menurut cerita para Waliullah bisa melakukan itu– salat Jumat di Makkah, mesti tidak pergi ke sana.

Dan Jumat (16/7) lalu saya seperti salat Jumat di Makkah.

Jumat itu dari bandung saya pergi ke daerah Karawang untuk pertemuan tugas kantor. Tiba waktu salat Jumat, saya dan beberapa kawan kerja pergi ke sebuah masjid yang tak seberapa jauh dari tempat pertemuan.
Begitu khatib naik mimbar (persisnya sih tidak naik mimbar, karena khatib hanya duduk di kursi, dan di depannya hanya ada mik tanpa mimbar). Layaknya khutbah Jumat, khatib memulai dengan puji syukur dalam bahasa Arab, kemudian membaca hadits (juga bahasa Arab). Namun, sekian menit kemudian, khatib yang khutbah tanpa memakai sorban itu terus membaca khotbah dalah bahasa Arab hingga khutbah pertama selesai. Saya berpikir, mungkin nanti khutbah keduanya bahasa Indonesia. tapi ternyata juga bahasa Arab… Untung saja saya pernah sekolah di pesantren. Jadi, apakah saya mengerti? Alhamdulillah… tidak.
Selesai salat, saya kembali menemukan hal baru. Para jamaah begitu beranjak dari duduk terlebih dulu mengangkat tangan ke khatib– yang sekaligus menjadi imam– lantas melemparkan uang (ada seribuan, ada pula dua ribuan) ke depan, ada juga yang diletakkan begitu saja di muka di mana jamaah itu tadi salat. setelah masjid berangsur kosong, anak-anak tiba-tiba menyerbu ke depan mengambil uang-uang yang tadi dilemparkan.
Tapi kekagetan saya belum berkahir.
Usai salat sunat dan keluar masjid, saya melihat kaum perempuan duduk menyandar di bagian belakang shaf. Rupanya, para perempuan itu ikut juga salat jumat.
“Rupanya kita tadi salah masuk masjid,” celetuk seorang teman begitu keluar masjid.
“Ya, seperti salat jumat di Makkah, khotbahnya bahasa arab semua,” sahutku.

Sebenarnya bukan Jumat kali itu saja saya tidak mengerti isi khotbah Jumat. Beberapa waktu lalu, ketika pergi ke Ciwidey (daerah pinggiran Jawa Barat), saya mendengarkan khotbah Jumat dalam bahasa Sunda…

Ya, mudahan saja saya tetap mendapatkan pahala khotbah jumatnya.(*)

Iklan