Sajak Sederhana tentang Cinta

 

: begitulah kita saling mencintai
meski tak pernah mengerti
berapa jarak rindu dan sunyi

Iklan

puisi-puisi

Sebelum Kita Bertumbangan

 

kita selalu terlupa membaca cuaca

yang memakani pohon pohon usia

sampai nanti kita tersadar

ada lagi yang tumbang dalam diam

dan kita berada di deretan itu

menunggu

 

sementara sebelum saat itu datang

aku ingin membangun sebuah rumah sederhana

di dalamnya ada sebuah meja

dengan dua kursi di dekat jendela

tempat kita minum kopi saat pagi atau senja

dan malamnya kita bercinta

menggugurkan dosa dosa

 

 

Tentang Aku dan Sajak

 

semalam,

aku bercakap cakap dengan gerimis

tentang aku ingin menggores kata kata

tentang kata kata ingin menggores sajak

tentang sajak ingin menggores aku

 

kadang aku mencoret kata kata

kadang kata kata mencoret sajak

kadang sajak mencoret aku

 

semalam,

aku bercakap cakap dengan gerimis

bisakah aku berumah dalam kata kata?

 

 

Kau Jauh

 

dan gerimis terlambat pulang malam ini

dentingnya masih jatuh teduh

terasa jauh di ujung hatimu

Hujan Bulan November

hujan kali ini mengingatkan aku
pada basah rambutmu,
tanah yang menguap sehangat pipimu
juga kopi sore hari
senyummu, selalu seperti gerimis ini,
rinai dan kupetik menjadi kembang gula

kucari denting langkahmu pada aspal
yang mengkilap sehabis hujan
itu seperti baru saja terjadi
kaki kecilmu berlari jauh
memecahkan genangan air
di kolam hatiku

pandangi hujan kali ini
dan rasakan deru angin rindu
yang kukirim dari lembah tersunyi
tempat yang dulu pernah kita singgahi

*November, 2008

puisi-puisi

Menu Hari Ini: Puisi

di sebuah restoran
satu meja dua kursi
terhidang sepotong puisi

seperti makan pizza
kau perlu sedikit perjuangan
memotongmotong dengan
pisau tumpulmu agar
tak sampai berdarah
sebelum akhirnya puisi itu
kau kunyah resah

sialan! selalu saja
kau muntah

    Juni 2005

Membaca Jarak

negeri manakah tujuanmu?
aku tak punya alamat

 di layar tv pesawat
 kubaca jarak
 maut dan aku
 hanya setombak 

  antara Jkt-Hk 2004
Nanjing Road

mengukur jarak
antara rindu dan sunyi
pada lampu-lampu neon
yang tak bisa kuterjemahkan
warna dan hurufnya

hanya
angin dan dingin
kudekap tubuhku berkakukaku

Sepoci Teh Amoi

angin berputar
dalam teh pociku
hangatkan aku, amoi
di luar begitu dingin

merah gaun
mendesir darah
tirah, tirah
aku hilang arah

negerimu kabut
yang mengelambui bulan
jangan kau pandang, bisikmu
wajahmu porselen
licin dan lesi

angin berputar
dalam teh pociku
di luar
pohonpohon putih beku

   China – 2004

Sajak Sebatang Pohon Karet

Aku telah menyaksikan gajah-gajah besi
seperti pasukan Abrahah di tepi hutan ini
berderap, menerbangkan debu hitam batubara
dan tanah kering merah bata

Pepohonan sunyi burung
embun lesap sebelum mencium daun
angin kaku, kehilangan peta arah
pada subuh beraroma barah

Tanah terang, anak penakik getah datang
wajahnya pucat lesi bulan kesiangan
telah terbayang harga karet turun beribu-ribu
sebab getahku berserbuk, kesat kain belacu

Nadiku tercekat berlarat-larat
dalam bola mata anak penakik getah yang sekarat
tepi hutan, tepi kematian
suaranya kian menghilang

Kubayangkan arakan ababil datang dari samudra sunyi
menghujani gajah-gajah besi dengan batu api
langit terbakar, berkibar, menerbangkan lelatu
tepi hutan ini pun berubah menjadi abu

bulan awal tahun 2008

Yang Bertahan dan Melawan
: kepada Jhonson Maseri di pegunungan Meratus

Selalu ada yang bertahan dan melawan
di tanah ulayat dan hutan larangan
setiap jengkal tanah, sebatang pohon
adalah warisan hidup tujuh turunan

Chico Mendes
lelaki liat hutan Amazonia
meradang
menghadang deru gergaji siang malam
meski akhirnya tumbang ditembus peluru bayaran
di tanah basah ia rebah
…,
dan kita membaca
seorang teman mengenangnya, Luis Sepulveda
pada buku Pak Tua yang Membaca Kisah Cinta 

bulan awal tahun 2008

puisi-puisi

Sajak Gagal 
kata kata yang kupetik di pohon pohon kehidupan
kini terkumpul dalam tangkup kedua tanganku.
di atas selembar kertas putih, kata kata itu kuserakkan
agar mereka bait membait membentuk sajak sendiri. 
astaga! mereka melarikan diri lagi 
(26 agustus 2004)
——————–
  
Orang Gila 
kaulah pengembara sejati
sang pejalan yang lupa jalan pulang 
(26 agustus 2004)  
——————————
Sisa Usiamu Beku (Orang Gila II) 
kita selalu bertemu di jalan panjang berdebu itu,
mengukur jarak tanpa senyum,
matamu hilang ditelan bayang bayang senja.
aku menyapamu dalam gumam yang getas,
sebelum akhirnya kita berpisah selewat waktu 
angin tak pernah sama dalam gumpalan cuaca,
gerimis panas menjadi ruang dalam wajahmu.
jalan panjang itu menjadi titik mata kita.
aku menuju pulang, sementara kau terus berjalan menyusuri jalan hingga ke lorong hatimu yang tak pernah putus 
kau tak berkabar
suka dan airmata tamat sudah
sisa usiamu beku dalam ayunan angin yang ngilu. tapi
kutau kau akan terus berjalan di jalan itu, menyusuri
lorong hatimu sendiri, di mana sekarang
kau sedang tersesat 
(26 agustus 04)   
——————————— 
Tentang Aku dan Sajak 
semalam,
aku bercakap cakap dengan gerimis
tentang aku ingin menggores kata kata
tentang kata kata ingin menggores sajak
tentang sajak ingin menggores aku 
kadang aku mencoret kata kata
kadang kata kata mencoret sajak
kadang sajak mencoret aku 
semalam,
aku bercakap cakap dengan gerimis
bisakah aku berumah dalam kata kata? 
(26 Agustus 04)