Hanya Sebutir Debu

Hanya Sebutir DebuJudul:   Hanya Sebutir Debu
No. ISBN:  9786020237626
Penulis:  Sandi Firly
Penerbit:  Quanta, PT Elex Media Komputindo –  Gramedia
Tanggal terbit:  April – 2014
Jumlah Halaman:  192

Novel ini memotret persoalan lingkungan dari dekat. Efek eksploitasi pertambangan batu bara di Kalimantan Selatan dilihat pengarang dari perspektif peralihan moda transportasi. Dari situ kita tahu, bahwa pasca habisnya hutan Kalimantan, batu bara muncul sebagai andalan. Perubahan penuh sengkarut pun mencuat tajam.

Ratusan truk berderak setiap hari, bagai raksasa lapar di jalanan kota Rantau dan sepanjang jalan yang dilaluinya, menerbangkan debu ke rumah-rumah yang terbuka serta mendatangkan goncangan yang menakutkan bagi jiwa dan kehidupan para tokoh di dalam cerita ini. Mereka tidak hanya bergelut dengan kajian kitab-kitab, juga mesti bersikap atas lingkungan duniawinya yang terancam. Dan itu sungguh tidak mudah. Penuh pertentangan dan pergulatan. Demi harga diri dan nilai percintaan.

Maka, debu dan goncangan truk-truk di jalanan itu sesungguhnya analog dengan, sekaligus menjadi latar, dari debu dan goncangan jiwa tokoh-tokohnya, yang dalam beberapa bagian terasa lebih dahsyat. Sudut pandang pengarang yang unik, saya kira menyumbang besar pada dimensi latar semacam ini.

 

Raudal Tanjung Banua (Sastrawan dan Ketua Redaksi Jurnal Cerpen Indonesia)

: Catatan ini diberikan Raudal pada cetakan indie novel Hanya Sebutir Debu yang sebelumnya berjudul Rumah Debu tahun 2010.

Iklan

Bab Terakhir Novel Rumah Debu

Hanya Sebutir Debu

Di saat kamu membaca catatan ini, aku mungkin sedang berlayar entah di laut mana, entah ke negeri mana, atau di jalanan yang aku sendiri tak tahu namanya di sebuah kota yang mungkin aku juga tak tahu di mana; hanya orang-orang asing dan bangunan-bangunan asing, selebihnya juga keriuhan yang asing, atau mungkin aku sedang berada di sebuah tepian hutan, gunung atau pantai.

Aku tak beralamat. Aku tak memiliki sesuatu dan tak ada yang memiliki. Aku hanyalah seorang pejalan yang ingin melintasi seluas mungkin hamparan bumi Allah ini, dan karenanya terkadang aku akan terpuruk, bersujud, di tepi jalan, di tepi danau, atau di sebuah musala kecil di sudut bumi yang terpencil.

Aku hanyalah sebutir debu dalam genggaman angin…

***

Sejak pertemuan dengan ibu dan ayah kandungnya di malam di rumah berdebu saat ia disekap, Rozan telah memutuskan untuk pergi sejauh kakinya mampu melangkah, selayaknya pesan guru yang juga ayah angkatnya Guru Aran, bahwa seorang anak lelaki yang telah beranjak dewasa sudah seharusnya menziarahi setiap jengkal bumi ini, mengunjungi kota-kota jauh, negeri-negeri jauh, agar kelak keinginan itu tidak hanya mendekam di dalam dada menjadi sesuatu yang tak terperi, sesuatu yang takkan pernah bisa terwujudkan karena termakan usia.

Di beberapa kota dan negeri yang pernah disinggahinya, sesekali Rozan menyempatkan membuat catatan di dalam blognya; “Ruang Sunyi”. Karena itu, mungkin kamu pernah membacanya..?[]

: Ya, itulah bab terakhir dari novel Rumah Debu yang baru saja saya selesaikan (15/1/2010). Selanjutnya, semoga beruntung ada penerbit yang mau mencetaknya… (Terima kasih buat semua kawan yang terus “mempertanyakan” kapan novel ini bisa diselesaikan..)

Bandung-Banjar yang Kukenal…

Di bawah ini beberapa “perbandingan” antara kota BANDUNG dan BANJAR (Kalimantan Selatan). Tentu saja ini hanya berdasarkan pengamatan dan analisis dangkal saya yang baru sekian bulan tinggal di BANDUNG (sedangkan di BANJAR cukup lama, bertahun-tahun). Bagi yang mengenal kedua kota ini, boleh bersepakat juga boleh tidak. Boleh “meralat” juga boleh menambahkan. Silakan…

BANDUNG: Setiap sekira 2 kilometer terdapat mini market (bisa alfamart, indomaret, superindo, borma, yomart, griya, atau circel K yang buka 24 jam).
BANJAR: Setiap sekira 2 kilometer terdapat langgar (surau) atau masjid.

BANDUNG: 2 dari 3 wanitanya, cantik.
BANJAR: No Comment. (tergantung selera…)

BANDUNG: 1 dari 7 wanitanya, merokok.
BANJAR: 1 dari 20 (barangkali).

BANDUNG: Nasi bungkus (daun pisang) Rp2000 tanpa lauk.
BANJAR: Tambah Rp 50 (= Rp2500) nasi bungkus (daun pisang) pakai lauk telor, ayam, atau haruan (ikan gabus)

BANDUNG: Sebagian besar jalan diteduhi pohon-pohon tua nan rimbun.
BANJAR: Sebagian besar jalan diteduhi “pohon-pohon” baliho.

BANDUNG: Siang malam udaranya dingin.
BANJAR: Siang malam tetap panas.

BANDUNG: Seperti halnya wilayah Jabar lainnya, termasuk rawan gempa.
BANJAR: Seperti halnya wilayah Kalimantan lainnya, rawan banjir.

BANDUNG: Tarif angkot berdasarkan jauh dekat jarak (Rp1000- Rp6000).
BANJAR: Tarif angkot jauh dekat sama

BANDUNG: Jarang terjadi antrean panjang di pom bensin (tak banyak penjual bensin eceran).
BANJAR: Sering terjadi antrean panjang di pom bensin (penjual bensin eceran hampir setiap 10 meter)

BANDUNG: Banyak terdapat pemain teater.
BANJAR: Banyak terdapat penyair.

BANDUNG: Pameran lukisan hampir tiap pekan (sama seringnya dengan konser musik).
BANJAR: Pameran lukisan kadang-kadang (setahun sekali mungkin hanya “kewajiban”).

BANDUNG: Diskon/Bazaar buku hampir tiap bulan.
BANJAR: Setahun sekali sudah bagus.

BANDUNG: Kaset cd film (di gramedia) jarang diskon.
BANJAR: Di gramedia jalan veteran justru diskonnya besar dan cukup lama.

BANDUNG: Jenis kulinernya beraneka ragam.
BANJAR: Idem.

BANDUNG: Satu gelas teh (biasanya pakai teh celup) Rp 1000
BANJAR: Satu gelas (biasanya teh saringan) Rp 1000 juga.

BANDUNG: Satu gelas kopi hitam (biasanya kopi sachet) Rp 1500.
BANJAR: Satu gelas kopi hitam (biasanya bukan kopi sachet) Rp 1500 juga.

Oke, ada yang mau menambahkan…?

Sastrawan Rifani Djamhari Wafat

Sastrawan Rifani Djamhari Wafat
Lelaki Sederhana Itu Telah Pergi

Di ujung deadline kerja saya pukul 01.30 (Sabtu dinihari, 20/6/2009), HP saya berbunyi mengabarkan sebuah sms masuk (setiap sms ataupun telepon di saat jam begini, selalu mengundang rasa was-was akan kabar tidak menyenangkan). SMS itu dari Abdurrahman El Husaini, penyair asal Martapura. Dan benar, isinya adalah yang saya takutkan sejak beberapa hari ini:

Berita duka, innalillahi wa innailaihirojiun,
telah berpulang kawan kita Rifani Djamhari
(hari Sabtu pukul 01 lebih) di rumah duka
Gatot Subroto Gang Kuini 5, (Banjarmasin).
tolong kabari yang lain.

: dalam kurung itu tambahan dari Abdussyukur, aktor teater Banjarmasin, yang SMS-nya menyusul masuk ke HP saya kemudian.

Saya termangu membaca kabar duka itu. Terselip rasa penyesalan di hati saya, karena tidak sempat menjenguk beliau ketika masih dirawat di RS Ulin sejak Selasa (16/6). Padahal, pagi-pagi sekali hari itu saya diberi kabar. Namun, karena hari itu saya harus berangkat ke Sampit, saya tidak sempat menjenguk beliau. Begitu pula ketika pulangnya, Kamis (18/6).

Ketika saya, Hajri, Harie, dan Raudal kumpul di rumah saya di Landasan Ulin, Banjarbaru, sore Jumat (19/6) menjelang kepulangan Raudal ke Jogja sore itu, saya dan Harie berencana hari Minggu (21/6) akan menjenguk sama-sama ke Banjarmasin. Sore itu pula, saya sempat menelpon istri almarhum, menanyakan kabar beliau, serta mohon maaf tak sempat menjenguk. Istri beliau juga menceritakan tentang mula pembekuan darah di kepala setelah jatuh di wc rumah, yang lantas dioperasi. Saya pun lalu meminta izin untuk mengumuman penggalangan dana yang rencananya akan saya terbitkan di hari Minggu halaman sastra cakrawala.

(Alm) Rifani Djamhari yang saya kenal adalah lelaki sederhana lembut, tenang, dan ramah. Seperti puisi-puisi beliau, yang juga meski terasa sederhana, lembut, namun mampu menghadirkan imaji yang dalam. Terakhir saya berjumpa beliau, di rumah beliau di Banjarbaru usai salat magrib sekitar dua minggu yang lalu.

Itu pula yang dikatakan Raudal Tanjung Banua (yang telah tiba di Jogja), ketika membalas SMS duka dari saya di ujung deadline itu.

: Innalillahi wa innailaihirojiun,
ikut berduka cita dengan rasa kehilangan
yang sedalam-dalamnya. Beliau sahabat yang baik,
tenang, pendiam, tapi penuh perhatian.
Dilapangkan jalan ke haribaan-Nya,
dan diikhlaskan hati semua keluarga. Amin.

Di saat menuliskan ini setelah deadline berakhir, saya berjanji besok siang (Sabtu, 20/6) saya akan ke rumah duka…

——

Puisi Sederhana untuk Lelaki Sederhana

berbaju putih dengan sekembang senyum
kita nikmati teh buatan istrimu usai magrib itu
manis, manis
itukah isyarat sebelum maut mengecupmu?

Surat Terbuka untuk Sastrawan Kalsel

Kepada semuanya…

Postingan “Untuk Sastrawan Kalsel” (di bawah) mungkin membingungkan bagi sebagian kawan-kawan. Tapi bila Anda pembaca setia Cakrawala (sastra dan budaya) Radar Banjarmasin pada hari Minggu, maka Anda akan mengerti.

Pada hari Minggu ini (10 Mei 2009), cukup banyak kawan sastrawan berkirim SMS mempertanyakan: “Mengapa? Mengapa?”. Setiap mendapat pertanyaan itu, saya hanya termangu (dalam waktu cukup lama) menatap layar hp– bagaimanakah saya harus menjawabnya? Bagaimanakah saya harus menjelaskannya? Maka, maafkanlah bila akhirnya SMS kawan-kawan itu tidak bisa saya jawab. Saya merasa terharu, terharu…

Sungguh, saya sedang berduka, saya seperti telah kehilangan “anak kandung”  yang dengan segala daya saya tumbuhkan dan saya didik selama hampir 9 tahun. Upaya keras saya untuk menyelamatkannya juga sia-sia, meski saya telah berusaha menjadi seseorang yang keras kepala… Karenanya, maafkanlah saya…

Saya bukan sedang sentimentil, kawan, tapi ini benar sebuah kehilangan. Sungguh…

Salam

Salju dan Idul Adha

Berhubung musim salju, tampilan blog saya ubah agar guguran butiran salju bisa terlihat. Setelah musim salju berlalu, blog saya akan kembali ke tampilan favorite saya semula.  Semoga pembaca senang dengan tampilan baru nan sementara ini….

Dan Idul Adha 10 Zulhijah 1429 H pun telah tiba. Izinkan saya memohon ampun maaf handaitolan semua, bila kiranya dalam pergaulan dan ucapan ada salah yang menyinggung perasaan.

saya tunggu UNDANGAN barbeque kambing

 

tabik (menunduk, tangan kiri ke dada, tangan kanan terbuka)

Kunjungan FKIP-Sejarah Unlam

kunjungan-khairil_dscf3504-11

Yeah…, lagi ingin nampangin gambar manusia aja – meski sebelumnya juga tidak pernah nampangin gambar hewan.

Nah, kebetulan, Senin (24/11) ada segerombolan (salahkah disebut begitu?) mahasiswa FKIP-Sejarah Unlam berkunjung ke kantor saya di Banjarmasin. Jumlahnya lumayan banyak, 52 mahasiswa, terdiri laki dan perempuan, plus satu dosen yang lumayan terkenal. Teman kerja saya (khairil) lantas jeprat-jepret. Kebetulan sekali, jadi saya tampilin aja satu di sini. Yeah, setidaknya mereka (mahasiswa-masiswi) itu bisa nampang di blog saya. Lanjutkan membaca “Kunjungan FKIP-Sejarah Unlam”