Cita-Cita

Kejarlah apa yang kau cita-citakan, maka segenap alam akan bersatu untuk mewujudkannya.
(Sang Alkemis)

Mengapa anak-anak dulu cita-citanya hampir seragam? Kalau tak ingin jadi insinyur, pilot, dokter dan presiden, pasti ingin menjadi seperti Habibie (baca: pembuat pesawat terbang). Tak pernah disadari, kalau cita-cita itu bukanlah keinginan mereka, melainkan keinginan orang tuanya, keluarganya, gurunya, atau lingkungannya, yang mengajari mereka untuk menyebutkan cita-cita mereka. Dan wajar bila sekarang kita kaget ketika ada seorang anak perempuan menyatakan cita-citanya ingin menjadi pemain bola (dalam iklan di teve).

Meskipun kita tahu keinginan anak perempuan menjadi pemain bola itu adalah “rekayasa”, namun kita sadari memang telah terjadi “pembebasan” terhadap anak-anak untuk menentukan impiannya sendiri. Mungkin tak ada lagi orang tua sekarang yang mengajarkan anak-anaknya untuk menyebutkan cita-citanya menjadi pilot, dokter, presiden ataupun Habibie. Maka, ketika seorang anak suka mencampurkan beraneka macam jenis warna, ia pun menyebutkan keinginannya untuk menjadi “ahli kimia” (alkemi). Lanjutkan membaca “Cita-Cita”

Iklan

Musim Caleg

Dengan menempel gambar wajah di angkot, tidak di kaca mobil milik sendiri, apakah itu karena takut mobilnya jadi terlihat jelek, meski yang ditempel adalah gambar wajah sendiri?

Selain musim durian, saat ini juga lagi musim caleg.

Pernah melihat gambar-gambar para calon legislatif (caleg)? Tentu saja pernah — kecuali Anda dalam dua bulan belakangan ini hanya mengurung diri di dalam rumah dengan alasan apapun, menutup diri atau karena sakit.  Atau, jangan-jangan gambar caleg yang bersebaran di mana-mana itu, salah satunya adalah wajah Anda sendiri? Suami atau istri Anda? Keluarga Anda? Teman, atau tetangga Anda?

Saya sendiri sejauh ini tidak berani membayangkan bagaimana seandainya gambar wajah saya, dalam ukuran besar, nampang di pinggir-pinggir jalan. Dengan alasan yang tak bisa saya jelaskan, mungkin saya tidak akan berani menatapnya setiap berpapasan. Lanjutkan membaca “Musim Caleg”

“Polisi Tidur”

Barangkali perbandingannya;  jalan mulus itu hanya 50 persen, sisanya adalah lubang-lubang, gundukan-gundukan tambalan aspal bekas galian pipa, perbaikan jalan, ditambah kemacetan-kemacetan.

Semua tentu sudah mafhum, “polisi tidur” di sini bukanlah polisi yang tidur di kantor atau di pos jaga. Ini “polisi tidur” di tengah jalan, berupa gundukan semen melintang di tengah-tengah aspal.

Saya yakin, semua yang pernah pergi naik kendaraan bermotor pasti pernah melindas “polisi tidur”. Sebab kita tahu, “polisi tidur” ini hampir kita temui di mana-mana, terutama di gang dan jalan-jalan kecil. Ukuran gundukannya macam-macam, ada yang gemuk tinggi, atau kurus tinggi, atau gemuk – kurus rendah. Bagaimana pun bentuknya, setiap yang hendak melintas, selalu mengerem kendaraan dan dengan pelan sekali kita rasakan ban kendaraan kita melindas “polisi tidur” itu agar tidak terjadi goncangan atau hempasan yang keras. Bersamaan itu pula, kita pun harus ngerem rasa jengkel dan kesal terhadap “polisi tidur” itu. Lanjutkan membaca ““Polisi Tidur””

Le Clezio, Peraih Nobel Sastra 2008

Siapakah sejatinya seorang sastrawan?

Di mata Jean-Marie Gustave Le Clezio (68), peraih Hadiah Nobel Sastra 2008, sastrawan, secara khusus novelis, bukanlah filsuf, bukan pula teknisi bahasa tutur. “Dia adalah seseorang yang menulis, tentu saja, dan melalui novel dia bertanya,” katanya.
Le Clezio menekuni dunia sastra sepanjang hidupnya. Sejak masih belia, usia 8 tahun, Le Clezio sudah menulis. Hingga kini, lebih dari 50 novel, esai, cerita pendek, telah lahir dari tangannya.
Terobosan besar Le Clezio sebagai novelis adalah Desert (1980). Novel ini berkisah tentang kebudayaan yang hilang di gurun Afrika Utara, dan dikontraskan dengan Eropa yang dilihat melalui kacamata seorang imigran.
Sebelum dikenal sebagai penulis yang peduli pada tema-tema humanis dan pemerhati anak, Le Clezio sempat dikenal sebagai sastrawan “berani.” Itu karena pada era 1963-1975, dia lebih banyak mengeksplorasi tema-tema bahasa, tulisan, serta ketidakwajaran. Karya-karyanya waktu itu lebih banyak terinspirasi penulis kontemporer ternama seperti Georges Perec atau Michel Butor. Oleh publik Prancis, dia dikenal sebagai sastrawan yang suka menciptakan hal-hal baru dan seorang pemberontak.
Namun, gaya penulisannya berubah drastis pada akhir era 1970an. Dia meninggalkan hobinya dalam bereksperimen. Karya-karyanya pun menjadi lebih halus. Dia mulai banyak mengekplorasi tema-tema yang lebih ringan seperti masa kanak-kanak, remaja dan perjalanan. Perubahan itulah yang lantas membuatnya menjadi lebih tenar dan dianggap layak menerima Nobel Sastra 2008. (sumber jawa pos/kompas)

Siapakah Sastrawan?

(terbit edisi koran Radar Banjarmasin, Minggu 12 Oktober 2008 di halaman Cakrawala Sastra dan Budaya — Masih ada kaitannya dengan polemik buku Ensiklopedia Sastra Kalsel; Baca Ensiklopedia (Sekadarnya) Sastra Kalsel)

Apakah beda mereka yang disebut sastrawan di dalam buku ensiklopedia sastra Kalsel dengan yang tidak?

Siapakah sebenarnya sastrawan itu? Atau, bilamanakah seseorang itu baru disebut sastrawan? Pertanyaan ini dikirimkan seseorang lewat SMS kepada saya beberapa waktu lalu. Sumpah, saya gelagapan menjawabnya. Lalu, saya kembali dicecar dengan pertanyaan begini; Apakah seseorang yang telah menulis puisi, cerpen, prosa, sudah layak disebut sastrawan meski karyanya tidak pernah dikorankan dan hanya diselipkan di bawah bantal? Apakah seseorang itu baru disebut sastrawan apabila karyanya telah dipublikasikan atau dibukukan? Atau, sastrawan itu adalah mereka yang hanya tercatat dalam buku-buku ensiklopedia sastra? Bila yang terakhir jawabannya, maka mungkin selamanya saya tidak akan pernah tercatat sebagai sastrawan. Selamanya! Lanjutkan membaca “Siapakah Sastrawan?”

Mudik (2)

(surat terbuka kepada sahabat, kawan, yang kenal, dan tak mengenal saya)– catatan ini diterbitkan di Cakrawala, Sastra Budaya Radar Banjarmasin, edisi Minggu 28 September 2008.

Ketika catatan ini kalian baca, barangkali saya tengah melaju dalam perjalanan menuju kampung halaman nan jauh di pesisir Kalimantan Tengah sana. Saya bersama istri dan anak kami yang baru berusia satu setengah tahun berangkat pagi-pagi sekali. Sehabis sahur dan salat subuh, seorang teman dengan mobilnya akan mengantarkan kami ke Palangka Raya – selanjutnya saya bersama istri dan si kecil akan melanjutkan lagi menuju Sampit – kota yang pernah mencatat amuk sejarah di tahun 2001 itu. Lanjutkan membaca “Mudik (2)”

Mudik

Ada perjuangan yang keras kepala untuk bisa memenuhi panggilan pulang kampung halaman.

Bila Anda sama seperti saya, terserak dari puak, terpisah jauh dari keluarga dan tanah tumpah darah kelahiran, maka saya percaya di hari-hari terakhir Ramadan ini Anda sedang dideru rindu. Kampung nan jauh di mata itu seperti melambai-lambai memanggil pulang. Dan saya percaya, kerinduan keluarga dan teman-teman akan kehadiran Anda di tengah-tengah mereka di saat Lebaran menjadi satu kekuatan yang terus menarik-narik jiwa Anda agar menemui mereka. Lanjutkan membaca “Mudik”